Minggu, 02 Juni 2013

kumpulan method of teaching


Materi method of teaching English
1. Multiple intelligences (Yuni Wulandari)
2. Grammar translation method (Rafsanjani)
3. Whole language (Nurmasyitah)
4. Audio lingual method (putrid andriani n Tsaniatul Adawiyah)
5. Self Directed learning (Rahmatul mauliza)
6. Direct method (Yusnita)
7. Content Based instruction (Rindang n Nurazizah)
8. Competency based language teaching (Siti Mukarramah)
9. Communicative language teaching (Hayatun Sakdiah)
10. Community language learning (Kandri)
11. Contextual teaching learning (Wahyu Ratomi Nurcholis n Edy Saputra)
12. Cooperative learning (Naily Fauza n Ayu Mulia)
13. Inquiry based learning (Ainal Hayati)
14. Lexical Approach (Putri Fitria)
15. Sustained Silent reading (Andiyana n Ayu Rizki)
16. Task based instruction (Rika wati n Maulita)
17. Total physical response (Safrina Amni)
18. Project based learning (Arnis Aisiya)
19. Silent way (Annisa n zahara)
20. Suggectopedia (Vera Puspita)
21. Participatory approach (Cut oriza keumala)
22. Problem based learning (Dedi Darmadi)
23. Neurolinguistic programming (Yeni safarina)
24. Learning strategy training (Rosmawati)
25. Natural approach (Nurmalawati n Mulia Hasti Lestari)
26. Blended learning (Halimatus Sakdiah n M.Zauti)
27. Home schooling(Muamarsyah dan Maulana iqbal)
28. Collaborating (Musmuliadi dan Mustaqim Karimuddin)


Pengertian Kecerdasan atau Multiple Intelligences

Apakah Kecerdasan Itu ?
  • Kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap
  • Ia bagaikan kumpulan kemampuan atau ketrampilan yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan
  • Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah; kemampuan untuk menciptakan masalah baru untuk dipecahkan; kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu pelayanan yang berharga dalam suatu kebudayaan masyarakat (Howard Gardner)

Multiple Intelligences

Melalui pengenalan akan Multiple Intelligences, kita dapat mempelajari kekuatan / kelemahan anak dan memberikan mereka peluang untuk belajar melalui kelebihan-kelebihannya.
Tujuan: anak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi dunia, bekerja dengan ketrampilan sendiri dan mengembangkan kemampuannya sendiri.
1. Kecerdasan Linguistik
  • Mampu membaca, mengerti apa yang dibaca.
  • Mampu mendengar dengan baik dan memberikan respons dalam suatu komunikasi verbal.
  • Mampu menirukan suara, mempelajari bahasa asing, mampu membaca karya orang lain.
  • Mampu menulis dan berbicara secara efektif.
  • Tertarik pada karya jurnalism, berdebat, pandai menyampaikan cerita atau melakukan perbaikan pada karya tulis.
  • Mampu belajar melalui pendengaran, bahan bacaan, tulisan dan melalui diskusi, ataupun debat.
  • Peka terhadap arti kata, urutan, ritme dan intonasi kata yang diucapkan.
  • Memiliki perbendaharaan kata yang luas, suka puisi, dan permainan kata.


2. Kecerdasan Logika – Matematika
  • Mengenal dan mengerti konsep jumlah, waktu dan prinsip sebab-akibat.
  • Mampu mengamati objek dan mengerti fungsi dari objek tersebut.
  • Pandai dalam pemecahan masalah yang menuntut pemikiran logis.
  • Menikmati pekerjaan yang berhubungan dengan kalkulus, pemograman komputer, metode riset.
  • Berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti-bukti, membuat hipotesis, merumuskan dan membangun argumentasi kuat.
  • Tertarik dengan karir di bidang teknologi, mesin, teknik, akuntansi, dan hukum.
  • Menggunakan simbol-simbol abstrak untuk menjelaskan konsep dan objek yang konkret.

3. Kecerdasan Intrapersonal
  • Mengenal emosi diri sendiri dan orang lain, serta mampu menyalurkan pikiran dan perasaan.
  • Termotivasi dalam mengejar tujuan hidup.
  • Mampu bekerja mandiri, mengembangkan kemampuan belajar yang berkelanjutan dan mau meningkatkan diri.
  • Mengembangkan konsep diri dengan baik.
  • Tertarik sebagai konselor, pelatih, filsuf, psikolog atau di jalur spiritual.
  • Tertarik pada arti hidup, tujuan hidup dan relevansinya dengan keadaaan saat ini.
  • Mampu menyelami / mengerti kerumitan dan kondisi manusia.
Profesi: ahli psikologi, ulama, ahli terapi, konselor, ahli teknologi, perencana program, pengusaha, dan sebagainya.
4. Kecerdasan Interpersonal
  • Memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pandai menjalin hubungan sosial.
  • Mampu merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku, dan harapan orang lain.
  • Memiliki kemampuan untuk memahami orang lain dan berkomunikasi dengan efektif, baik secara verbal maupun non-verbal.
  • Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kelompok yang berbeda, mampu menerima umpan balik yang disampaikan orang lain, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
  • Mampu berempati dan mau mengerti orang lain.
  • Mau melihat sudut pandang orang lain.
  • Menciptakan dan mempertahankan sinergi.


5. Kecerdasan Musikal
  • Menyukai banyak jenis alat musik dan selalu tertarik untuk memainkan alat musik.
  • Mudah mengingat lirik lagu dan peka terhadap suara-suara.
  • Mengerti nuansa dan emosi yang terkandung dalam sebuah lagu.
  • Senang mengumpulkan lagu, baik CD, kaset, atau lirik lagu.
  • Mampu menciptakan komposisi musik.
  • Senang improvisasi dan bermain dengan suara.
  • Menyukai dan mampu bernyanyi.
  • Tertarik untuk terjun dan menekuni musik, baik sebagai penyanyi atau pemusik.
  • Mampu menganalisis / mengkritik suatu musik.
Profesi: DJ, musikus, pembuat instrumen, tukang stem piano, ahli terapi musik, penulis lagu, insinyur studio musik, dirigen orkestra, penyanyi, guru musik, penulis lirik lagu, dan sebagainya.
6. Kecerdasan Visual – Spasial
  • Senang mencoret-coret, menggambar, melukis dan membuat patung.
  • Senang belajar dengan grafik, peta, diagram, atau alat bantu visual lainnya.
  • Kaya akan khayalan, imaginasi dan kreatif.
  • Menyukai poster, gambar, film dan presentasi visual lainnya.
  • Pandai main puzzle, mazes dan tugas-lugas lain yang berkaitan dengan manipulasi.
  • Belajar dengan mengamati, melihat, mengenali wajah, objek, bentuk, dan warna.
  • Menggunakan bantuan gambar untuk membantu proses mengingat.
.
7. Kecerdasan Kinestetik – Jasmani
  • Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara trampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran, perasaan, dan mampu bekerja dengan baik dalam menangani objek.
  • Memiliki kontrol pada gerakan keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.
  • Menyukai pengalaman belajar yang nyata seperti field trip, role play, permainan yang menggunakan fisik.
  • Senang menari, olahraga dan mengerti hidup sehat.
  • Suka menyentuh, memegang atau bermain dengan apa yang sedang dipelajari.
  • Suka belajar dengan terlibat secara langsung, ingatannya kuat terhadap apa yang dialami atau dilihat.

8. Kecerdasan Naturalis
  • Suka mengamati, mengenali, berinteraksi, dan peduli dengan objek alam, tanaman atau hewan.
  • Antusias akan lingkungan alam dan lingkungan manusia.
  • Mampu mengenali pola di antara spesies.
  • Senang berkarir di bidang biologi, ekologi, kimia, atau botani.
  • Senang memelihara tanaman, hewan.
  • Suka menggunakan teleskop, komputer, binocular, mikroskop untuk mempelajari suatu organisme.
  • Senang mempelajari siklus kehidupan flora dan fauna.
  • Senang melakukan aktivitas outdoor, seperti: mendaki gunung, scuba diving (menyelam).

 

 

 

THE GRAMMAR-TRANSLATION METHOD (1890s-1930s) - The Grammar-Translation Method, Instant was used by language teachers for many years. It is expected to help students read and appreciate foreign language literature. By studying the grammar of the language targets, students would Become more familiar with the grammar of their native language and that this familiarity would help them speak and write the native language better.

Often translated language students cumbersome volumes from Classical Greek or Latin into English vía this approach. It consisted mainly of exhaustive use of dictionaries, Explanations of grammatical rules (in English), some sample sentences, and exercise drills to practice the new structures. Little opportunity f
real or second-language acquisition Existed then.


The principles of the Grammar-Translation Method

1)       The goals of learning a foreign language is to be Able to read literature in the target language, learn grammar rules and vocabulary, and develop mental acuity.
2)       Teacher has authority, while students follow instructions to learn what the teacher knows.
3)       Students learn by translating from one language to the other, translating Often the reading passages in the target language to the native language. Grammar is learned deductively on the basis of grammar, then apply them to other examples.
4)       Most interaction is teacher-to-students, students-initiated interaction, and student-student interaction is minimal.
5)       Literary language seen as superior to spoken language; culture equated with literature and fine arts.
6)       Vocabulary and grammar are emphasized; reading and writing are the primary skills; pronunciation and other speaking / listening skills not emphasized.
7)       Native language provides the key to meanings in the target language; native language is used freely in class.
8)       Tests require translation from the native to the target language and the native language to the target, applying grammar rules, and answering questions about foreign culture.
9)       Heavy emphasis placed on correct answer and teacher supplies correct answers when students can not.

The Techniques Used in the Grammar-Translation Method

1)       Translation of a literary passage, that is, students translate a reading passage from the target of language into their native language.
2)       Reading comprehension questions, that is, students answer the questions in the target language based on their understanding of the reading passage.
3)       Antonyms / synonyms, that is, students are given one set of words and are asked to find antonyms / synonyms ion the reading passage.
4)       Cognates, that is, students are taught to recognize cognates by learning the spelling or sound patterns that Correspond between the languages.
5)       Deductive application of the rule, that is, students are given a series of sentences with words missing and they fill the blanks.
6)       Memorization, that is, students are given lists of the target language vocabularies and their native language equivalents and are asked to memorize them.
7)       Use words in sentence, that is, students are asked to make up sentences in roomates they use the new words.
8)       Composition, that is, students are asked to write the composition in the target language based on the topic give. AJM 
                                


                                                  WHOLE LANGUAGE
Whole language  adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa  yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Edelsky, 1991; Froese, 1990; Goodman, 1986; Weafer, 1992, dalam Santosa, 2004). Para ahli  whole language berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah (Rigg, 1991). Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan tanda baca, umpamanya, diajarkan sehubungan dengan pembelajaran keterampilan menulis. Demikian juga pembelajaran membaca dapat diajarkan bersamaan dengan pembelajaran berbicara, pembelajaran sastra dapat disajikan bersamaan dengan pembelajaran membaca dan menulis ataupun berbicara. Selain itu, dalam pendekatan whole language ,  pembelajaran bahasa dapat juga disajikan sekaligus dengan materi pelajaran lain, umpamanya bahasa-matematika, bahasa-IPS, bahasa-sains, bahasa-agama.  Pendekatan whole language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu (integrated ) (Robert dalam Santosa, 2004:2.3). Anak termotivasi untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang dipelajarinya memang bermakna bagi mereka. Orang dewasa, dalam hal ini guru, berkewajiban untuk menyediakan lingkungan yang Metodologi Pembelajaran  menunjang untuk siswa agar mereka dapat belajar dengan baik. Fungsi guru dalam kelas whole language berubah dari fungsi desiminator informasi menjadi fasilitator (Lamme & Hysmith, 1993).
Ciri-ciri Kelas Whole Language
a. Kelas yang menerapkan whole language  penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan  bulletin board.  Karya tulis siswa dan chart  yang dibuat siswa menggantikan bulletin board  yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakaan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku petunjuk dan berbagai barang cetak lainnya.
b. Siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.
c. Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
d. Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language  hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru.
e. Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Dalam hal ini interaksi guru adalah multiarah.
f. Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru tidak mengharapkan kesempurnaan, yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima.
g. Siswa mendapat balikan (feed back)  positif baik dari guru maupun temannya. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri.  Dari ketujuh ciri tersebut dapat terlihat bahwa siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas meyampaikan materi. Sebagai fasilitator guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.

The Audio-Lingual Method

Metode audio-lingual adalah salah satu metode pembelajaran dan pengajaran bahasa khususnya bahasa asing. Pada awalnya metode ini diperkenalkan oleh pakar atau ahli bahasa inggris yang bernama Charles Fries dari Universitas Michigan di Amerika Serikat pada akhir tahun 1950 an dan masih berkembang hingga sekarang. Metode ini menekankan pada penguasaan tata bahasa dan tidak menekankan pada penguasaan kosakata. Inilah yang membedakan antara metode audio-lingual dengan metode langsung walaupun pada awalnya metode audio-lingual disebut juga dengan metode langsung. Pada metode ini siswa awalnya diperkenalkan dengan suatu bahasa, kemudian mereka berbicara, membaca dan menulis.
Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi tujuan dari metode audio-lingual, antara lain:
1. Kecakapan dalam pengucapan dan tata bahasa.
2. Kemampuan merespon dengan cepat dan memiliki kemampuan berbicara yang baik dan tepat.
3. Memiliki pengetahuan yang cukup tentang kosakata dan mampu menerapkannya didalam penggunaan tata bahasa.
Larsen Freeman dalam bukunya yang berjudul “ Teknik dan Prinsip-Prinsip dalam Pengajaran Bahasa “(1986:45-47) memberikan penggambaran umum teknik-teknik yang terkait dengan metode audio-lingual, antara lain:
1. Dialog Memorization
Siswa diberi dialog singkat untuk menghafal lalu mereka harus menirukannya dan di praktikkan dalam permainan peran untuk memainkan dialog. Contoh dialog yang dapat digunakan adalah :
Objektif: Percobaan dengan bahasa verbal dan non-unsur (mis. gerakan) untuk mencapai efek untuk tujuan tertentu dan peserta.
Contoh :
Dialog One
Person 1: Good morning, Bill.
Person 2: Good morning, Sally.
Person 1: How are you?
Person 2: Fine thanks, and you?
Person 1: Fine. Where are you going?
Person 2: I'm going to the post office.
Person 1: I am too. Shall we go together?
Person 2: Sure. Let's go.
Dialog Two
Person 1: Hello sir. Can I help you?
Person 2: Hello, I am looking for some shoes.
Person 1: What kind of shoes would you like?
Person 2: I would like some running shoes.
Person 1: Right this way, sir.
Person 2: These look nice.
Person 1: Those are ten dollars.
Person 2: I'll buy them, thank you.

2. Backward Build-Up
Memberikan kepada siswa sebuah kalimat yang terpisah-pisah dan mereka harus menemukannya. Siswa mengulang dari setiap akhir kalimat yang dibacakan oleh guru dan menambahkan kata disetiap kalimat yang akan dibaca selanjutnya secara berurutan.
Objektif: Mengambil andil dalam berbagi pengalaman tentang bahasa.
Contoh :
Teacher : Repeat after me: Post office
Class : Post office
Teacher : to the post office
Class : to the post office
Teacher : going to the post office
Class : going to the post office
Teacher : I'm going to the post office.
Class : I'm going to the post office.

3. Transformation Drills
Seorang guru menyediakan beberapa pertanyaan dan kemudian diubah kedalam sebuah kalimat pernyataan oleh siswa. Kemudian kalau seorang guru ingin mengembangkan lebih jauh didalam teknik ini maka siswa setelah membuat kalimat pernyataan maka mereka harus membuat kalimat pertanyaan dari kalimat pernyataan sebelumnya.
Objektif: Pilih dari beberapa dari kata pilihan dan gunakan kalimat sederhana agar mudah untuk menghubungkan antara ide and informasi.
Contoh:
a. Do you like school?
b. Are you having fun?
c. Did the cat climb the tree?
d. Are there ghosts in that house?
e. Does your Mom do the laundry?
f. Is your Mom cooking this week?
g. Do your brothers work in the pig barn?
h. Are you learning about animals in school?
i. Do you enjoy going to weddings?
j. What should we do for the Christmas concert this year?

4. Complete The Dialog
Siswa mengisi sebuah kalimat dialog yang kosong yang telah diberikan oleh guru dan mereka harus melengkapi dengan kata yang tepat atau lebih mendekati makna kalimat yang selanjutnya.
Objektif: Membuat koneksi antara teks, pengetahuan dan pengalaman pribadi.
Contoh:
1. Yesterday we went for a ___________________ around the school ground. The school is a __________________ building. The door is ____________________. On our walk we saw_______________________. We ______________________to walk.

2. (girl) My name is ____________________. I am ___________________years old.
My hair is __________________. My dress is _______________________.
I like to _____________________________.

3. (boy) My name is_____________________. I am ________________ years old. My hair is______________________. My pants are___________________. My shirt is_______________________. I like to ______________________.

4. I was on a trip to______________________. I saw_________________. My favorite part was___________________. The part I didn't like was ______________________.

5. I like to _________________________. It is my favorite thing to do because _____________________________. When I am ______________________I feel ___________________________________.

5. Dictation
Guru membacakan sebuah kata atau kalimat kemudian meminta siswa untuk menuliskannya kedalam sebuah kertas dan kemudian siswa tersebut membacakan didepan kelas.
Objektif: Mendengarkan dengan seksama agar mendapatkan inti dari informasi yang diberikan.
Contoh:
Teacher : I always get up at 6 o’clock.
Siswa menuliskannya kedalam sebuah kertas dan kemudian dipresentasikan didepan kelas.
6. Flashcards
Seorang guru menuliskan sebuah kata didalam sebuah kartu atau kertas yang kemudian diberikan kepada siswa dan selanjutnya siswa mengembangkan menjadi sebuah kalimat atau penyataan dengan tujuan untuk mengembangkan pola pikir siswa berdasarkan pengalamannya.
Objektif: Membuat koneksi antara teks, pengetahuan dan pengalaman pribadi.
Contoh:
Pig School Teacher
Geese Kitchen Cow
Milk Wedding Harvest

7. Chain Drill
Guru memberikan pertanyaan kepada seorang siswa dan siswa tersebut mereponsnya dan memberikan pernyataan kepada guru tersebut kemudian guru tersebut melemparkan kembali kepada siswa yang lain dan begitu seterusnya.
Objektif: Berpartisipasi dalam pengalaman berbahasa.
Contoh:
Teacher : What color in your uniform?
Student I : Blue, Sir.
Teacher : What color in your shoe?
Student II : Black, Sir.
Etc.
8. The Alphabet Game
Guru memilih satu kategori, seperti supermarket. Lalu murid pertama berkata, "Aku akan ke supermarket. Aku butuh beberapa apel. " (Nama murid pertama yang diawali dengan abjad A.) Siswa kedua berkata, "Aku akan ke supermarket. Aku butuh beberapa apel dan aku butuh beberapa pisang. " Permainan dilanjutkan dengan cara ini berturut-turut dengan masing-masing siswa menambahkan item yang diawali dengan huruf berikutnya setelah mengulangi item yang sebelumnya mereka sebut.
Objektif: Berpartisipasi dalam berbagi pengalaman mendengarkan dan berbagi ide dan pengalaman dalam kelompok kecil maupun kelompok besar.
Sebagai kesimpulan menurut kelompok kami bahwa didalam pengajaran bahasa pada metode audio-lingual ini menekankan pada terjadinya sebuah komunikasi yang lancar di antara guru dan siswa. Dengan kata lain, sebuah kompetensi komunikatif yang menjadi tujuan utamanya. Dengan metode ini, siswa akan lebih sering terlibat di dalam proses belajar mengajar karena mereka dituntut untuk berkomunikasi dan mendengarkan materi yang disampaikan guru mereka. Dengan demikian keterlibatan siswa jadi lebih maksimal. Siswa juga jadi termotivasi untuk belajar karena metode ini menuntut mereka untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Namun ada sebuah kelemahan didalam metode ini yaitu tidak mengajarkan dan menekankan pada penguasaan kosakata namun pada tatabahasa. Sehingga penguasaan bahasa yang dimiliki peserta didik menjadi terbatas hanya apa yang terdapat dalam konteks wacana yang diberikan saja.
Namun ada beberapa kelebihan dalam metode audio-lingual ini yaitu peserta lebih cepat berkembang dalam kompetensi berbicara dan mendengarkan karena sebagian besar teknik yang dipakai dalam metode ini adalah teknik yang sebagian besar menekankan teknik pada penguasaan berbicara dan mendengarkan.


Direct Method - Sepertihalnya Grammar-translation Mehod, Direct Method bukanlah sebuah metode yang baru. Prinsip-prinsipnya sudah di gunakan oleh guru bahasa bertahun-tahun lalu. Metode ini mempunyai tujuan instruksional bahwa pembelajaran bahasa asing ditujukan agar bisa berkomunikasi. Sejak Grammar-translation Method tidak sangat efektif dalam menyiapkan siswa untuk mengguanakan bahasa yang dipelajari (target lanugage) secara komunikatif, Direct Method menjadi sangat populer.
Direct Method memiliki satu peraturan dasar yaitu tidak diperbolehkannya jenis terjemahan. Asal kata Direct Method faktanya karena pengajaran bahasa jika dengan menggunakan metode ini disampaikan secara langsung (direct) dengan bantuan visual tanpa adanya penggunaan bahasa asal (native language) siswa.

Tujuan Penggunaan Direct Method
Guru yang menggunakan Direct Method menginginkan siswanya belajar bagaimana berkomunikasi dengan mengguanakan bahasa yang dipelajari (target language). Agar harapan itu terwujud, siswa haru belajar berfikir mengguankan bahasa yang dipelajari (target language) dengan tidak diperbolehkannya bahasa asil (native language) muncul selama pelajaran.

Peran Guru-siswa Dalam Direct Method
Walaupun peran guru pada metode ini adalah sebagai 'director' kelas, peran siswa lebih aktif jika dibandingkan pada Grammar-translation Method. Guru dan siswa lebih seperti partners dalam preose pembelajaran/ pengajaran.

Karakteristik Proses Pembelajaran Dalam Direct Method
Guru yang menggunakan metode ini memaksa siswa untuk memahami arti dari bahasa sasaran (target language) secara langsung. Untuk melakukannya, ketika guru mengenalkan sebuah kata atau phrase bahasa sasaran, guru mendemonstrasikan artinya melalui penggunaan realia, gamba, atau pantomim; guru tidak boleh mengartikannya secara langusung ke bahasa asli (native language) siswa.

Interaksi Guru-siswa Dalam Direct Method
Interaksi antara guru dengan siswa berjalan dari dua arah, baik dari guru ke siswa atau dari siswa ke guru, tetapi kebanyakan interaksi berjalan dari guru ke siswa. Interaksi antar siswa juga banyak terjadi dalam metode ini.

Language Skill Dalam Direct Method
Vocabulary sangat ditekankan melebihi grammar. Meskipun metode ini dapat berkerja pada semua basic skills bahasa Inggris seperti reading, writing, speaking, dan listening dari awal pembelajaran, tetapi komunikasi secara lisan dilihat sebagai basic skill. Pronunciation juga mendapatkan tempat dalam metode ini, dari awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran.

Evaluasi Dalam Direct Method
Formal evaluation tidak begitu banyak dijumpai dalam metode ini, tatapi dalam Direct Method, siswa diminta untuk menggunakan target language bukan untuk menjelaskan pengetahuan mereka tentang target language. Siswa diminta untuk menggunkan target language baik secara lisan atau tulisan. Sebagai contoh evaluasi dalam metode ini, siswa mungkin diwawancarai secara langsung oleh guru atau mungkin diminta untuk menuliskan secara langsung sebuah paragraph tentang sesuatu yang telah mereka pelajari.  
              
                                                      CONTENT BASED LEARNING

Instruksi Content-Based (CBI) adalah pendekatan yang signifikan dalam pendidikan bahasa (Brinton, Salju, & Wesche, 1989). CBI dirancang untuk memberikan pelajar bahasa kedua instruksi dalam isi dan bahasa.
Secara historis, isi kata telah berubah maknanya dalam pengajaran bahasa. Konten yang digunakan untuk merujuk pada metode tata bahasa-terjemahan , metodologi audio lingual dan kosakata atau pola suara dalam bentuk dialog. Baru-baru ini, konten diartikan sebagai penggunaan materi pelajaran sebagai kendaraan untuk kedua atau asing pengajaran / pembelajaran bahasa.

Manfaat instruksi berbasis konten

1. Peserta didik yang terkena cukup banyak bahasa melalui konten merangsang. Peserta didik mengeksplorasi konten yang menarik & terlibat dalam kegiatan yang tergantung pada bahasa yang sesuai. Belajar bahasa menjadi otomatis.
2. CBI mendukung dikontekstualisasikan pembelajaran, peserta didik diajarkan bahasa yang berguna yang tertanam dalam konteks wacana yang relevan dan bukan sebagai fragmen bahasa terisolasi. Oleh karena itu siswa membuat hubungan yang lebih besar dengan bahasa & apa yang mereka sudah tahu.
3. Informasi yang kompleks disampaikan melalui konteks kehidupan nyata bagi siswa untuk memahami dengan baik & menyebabkan motivasi intrinsik.
4. Dalam informasi CBI diulang dengan strategis penyampaian informasi pada waktu yang tepat & situasi memaksa siswa untuk belajar dari gairah.
5. Fleksibilitas yang lebih besar & kemampuan beradaptasi dalam kurikulum dapat digunakan sesuai minat siswa.

Dibandingkan dengan pendekatan lain

Pendekatan CBI sebanding ke Bahasa Inggris untuk Keperluan Khusus (ESP), yang biasanya untuk kebutuhan kejuruan atau pekerjaan atau Inggris untuk Keperluan Akademik (EAP). Tujuan dari CBI adalah untuk mempersiapkan siswa untuk memperoleh bahasa saat menggunakan konteks materi pelajaran sehingga siswa belajar bahasa dengan menggunakannya dalam konteks yang spesifik. Daripada belajar bahasa di luar konteks, itu dipelajari dalam konteks subjek akademis tertentu.
Sebagai pendidik menyadari bahwa untuk berhasil menyelesaikan tugas akademik, kedua bahasa (L2) peserta didik harus menguasai bahasa Inggris sebagai bentuk bahasa ( grammar , kosakata dll) dan bagaimana bahasa Inggris digunakan dalam isi inti kelas, mereka mulai menerapkan berbagai pendekatan seperti instruksi terlindung dan belajar untuk belajar di kelas CBI. Instruksi terlindung lebih merupakan pendekatan guru-driven yang menempatkan tanggung jawab di pundak guru. Ini adalah kasus dengan menekankan beberapa pedagogis kebutuhan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan mereka, seperti guru memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran, pengetahuan tentang strategi instruksional untuk konten dipahami dan mudah diakses, pengetahuan tentang proses belajar L2 dan kemampuan untuk menilai kognitif, bahasa dan strategi sosial yang siswa gunakan untuk menjamin pemahaman isi sementara mempromosikan pengembangan akademik bahasa Inggris. Belajar untuk belajar lebih merupakan pendekatan yang berpusat pada siswa yang menekankan pentingnya memiliki peserta didik berbagi tanggung jawab ini dengan para guru. Belajar untuk belajar menekankan peran penting bahwa strategi pembelajaran bermain dalam proses pembelajaran.

Memotivasi siswa

Menjaga siswa termotivasi dan tertarik adalah dua faktor penting yang mendasari instruksi berbasis konten. Motivasi dan minat sangat penting dalam mendukung keberhasilan siswa dengan menantang, kegiatan informatif bahwa keberhasilan dukungan dan yang membantu siswa belajar keterampilan kompleks (Grabe & Stoller, 1997). Ketika siswa termotivasi dan tertarik pada materi yang mereka pelajari, mereka membuat hubungan yang lebih baik antara topik, elaborasi dengan materi pembelajaran dan dapat mengingat informasi yang lebih baik (Alexander, Kulikowich, & Jetton, 1994: Krapp, Hidi, & Renninger, 1992). Singkatnya, ketika seorang siswa termotivasi secara intrinsik siswa mencapai lebih. Hal ini pada gilirannya menyebabkan persepsi keberhasilan, untuk mendapatkan atribut positif yang akan terus pola belajar melingkar keberhasilan dan bunga. Krapp, Hidi dan Renninger (1992) menyatakan bahwa, "minat situasional, dipicu oleh faktor lingkungan, bisa menimbulkan atau berkontribusi pada pengembangan kepentingan individu tahan lama" (hal. 18). Karena CBI adalah student centered, salah satu tujuannya adalah untuk membuat siswa tertarik dan motivasi yang tinggi dengan menghasilkan instruksi konten merangsang dan bahan.

Keterlibatan siswa aktif

Karena berada di bawah rubrik lebih umum pengajaran bahasa yang komunikatif (CLT), kelas CBI adalah pembelajar daripada teacher centered (Littlewood, 1981). Dalam kelas tersebut, siswa belajar melalui melakukan dan secara aktif terlibat dalam pembelajaran proses. Mereka tidak tergantung pada guru untuk mengarahkan semua belajar atau menjadi sumber dari semua informasi. Pusat CBI adalah keyakinan bahwa belajar tidak hanya terjadi melalui paparan input guru, tetapi juga melalui rekan input dan interaksi. Dengan demikian, siswa yang menganggap aktif, peran sosial dalam kelas yang melibatkan pembelajaran interaktif, negosiasi , pengumpulan informasi dan co-konstruksi makna (Lee dan VanPatten, 1995). William Glasser "teori kontrol" mencontohkan upaya untuk memberdayakan siswa dan memberi mereka suara dengan berfokus pada dasar, kebutuhan manusia mereka: Kecuali siswa diberi kekuasaan, mereka dapat mengerahkan kekuatan apa yang mereka miliki untuk menggagalkan belajar dan prestasi melalui perilaku yang tidak pantas dan biasa-biasa saja. Dengan demikian, penting bagi guru untuk memberikan siswa suara, terutama dalam iklim pendidikan saat ini, yang didominasi oleh standarisasi dan pengujian (Simmons dan Page, 2010). [1]

Kesimpulan

Integrasi bahasa & konten pengajaran dirasakan oleh Komisi Eropa sebagai "cara terbaik untuk membuat kemajuan dalam bahasa asing". CBI efektif meningkatkan kemampuan bahasa Inggris peserta didik '& mengajarkan mereka keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam berbagai profesi. Dengan CBI, peserta didik secara bertahap mendapatkan kontrol yang lebih besar dari bahasa Inggris, memungkinkan mereka untuk berpartisipasi secara penuh dalam lingkungan akademik & sosial yang semakin kompleks.


                                     COPETENCY BASED LANGUAGE TEACHING

. Competency-Based Language Teaching
CBLT is an application of the principles of Competency-based Education (CBE) to language teaching. CBE is an educational movement that focuses on outcomes or outputs of learning in the development of language programs. It emerged in The United States in the 1970s and refers to an educational movement that educates defining educational goals in terms of precise measurable descriptions of the knowledge, skills, and behaviors students should possess at the end of a course of study. CBE addresses what the learners are expected to do with the language, however they learned to do it.
The Approaches in CBLT
There are several principals in CBLT:
1. Language is a vehicle for the expression of functional meaning (functional view)
2. Language is a vehicle for the realization of interpersonal relation and for the performance of social transactions between individuals. Language is a tool for the creation and maintenance of social relations. (interactional view)
3. CBLT is built around the notion of communicative competence and seeks to develop functional communication skills in learners.
4. CBLT shares with behaviorist views of learning, the notion that language form can be inferred from language function; that is, certain life encounters call for certain kinds of language.
. The Implementation of CBLT
Auerbach in Richards and Rodgers (2001:145) provides a useful review of factors involved in the implementation of CBE programs in ESL, and indentifies eight key features:
1. A focus on successful functioning in society
2. A focus on life skills
3. Task -or performance- centered orientation
4. Modularized instructions
5. Outcomes that are made explicit a priory
6. Continuous and ongoing assessment
7. Demonstrated mastery of performance objectives
8. Individualized, student-centered instruction
. The Competencies Involved in CBLT
CBLT is built around the notion of communicative competence:
1. Grammatical competence
It refers to linguistic competence and the domain of grammatical and lexical capacity.
2. Sociolinguistic competence
It refers to an understanding of the social context in which communication takes place, including role relationship, the shared information of the participants, and the communicative purpose for their interaction.
3. Discourse competence
It refers to the interpretation of individual message elements in terms of their interconnectedness and of how meaning is represented in relationship to the entire discourse or text.
4. Strategic competence
It refers to the coping strategies that the communicators employ to initiate, terminate, maintain, repair, and redirect communication
. The Target of Learner
Basically, CBLT can be used in all levels of students. In Indonesia, there are academic competencies that must be achieved by students, known as Standar Kompetensi. Stated in Peraturan Menteri No. 23/2006, “Standar Kompetensi adalah ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.”
But CBLT is used best for the learners who want to work and live in English-used atmosphere, for example working in English speaking Company.

 COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING

Communicative Language Teaching (CLT) merupakan suatu metode pengajaran bahasa yang merupakan pengembangan dari metode-metode sebelumnya seperti metode Situational Language Teaching dan metode Audio Lingual. Salah satu ciri utama dari CLT adalah adanya kombinasi antara aspek-aspek bahasa secara fungsional dan struktural. Secara struktural, CLT menekankan pada sistem grammar atau tata bahasa, sedangkan fungsional menekankan pada penggunaan bahasa itu.
CLT juga menekankan pada situasi, misalnya dalam situasi yang bagaimana suatu tuturan diucapkan. Dalam CLT terdapat berbagai kemampuan berbahasa yang terintegrasi (integrated skills) yang mencakup kemampuan reading, writing, listening, speaking, vocabulary, dan grammar. Jadi, melalui CLT ini para pembelajar bahasa asing diharapkan dapat menguasai atau terampil berbahasa, tidak hanya menulis tetapi juga berbicara dan tentunya dengan tata bahasa yang benar.
Adapun beberapa tujuan CLT antara lain :
  • Siswa akan belajar menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan sesuatu.
  • Siswa akan menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan pendapat dan penilaian.
  • Siswa akan belajar mengekspresikan fungsi-fungsi yang paling sesuai untuk berkomunikasi.
CLT menggunakan hampir setiap kegiatan yang melibatkan pembelajar dalam suatu komunikasi yang autentik. Littlewood (1981) membedakan dua jenis kegiatan:
  • Kegiatan komunikasi fungsional
Kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan (skill) dan fungsi bahasa tertentu, tetapi tetap melibatkan komunikasi.
  • Kegiatan interaksi sosial
Misalnya percakapan dan diskusi, dialog dan bermain peran (role play).

  



                                            COMMUNITY LANGUAGE LEARNING


Community language learning (CLL) tumbuh dari suatu ide untuk menrapkan konsep psikoterapi dalam pengajaran bahasa. Dalam eksperimen yang dimulai tahun 1957, Charles A. Curran menerapkan konsep psikoterapi dalam bentuk konseling.
1. Prinsip Dasar CCL
Karena latar belakang pendidikan formal Curren adalah psikoterapi, dia mempararelkan konsep pengajaran bahasa sebagai personal antara seorang ahli ilmu iwa de ngan seorang pasien. Hal ini tercermin dari istilah yang dipakai “client” sebutan untuk para counselor (mahasiswa/guru). Anggapan ini didasrkan bahwa pada saat seorang terjun dalam dunia atau arena yang batru seperti proses belajar-mengajar bahasa dia dikodratidengan berbagai cirri anusia sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam lingkungan yang balru dimana dia merasa asing, dia di hinggapi oleh rasa taka man (insecurity), rasa keterancaman (threat), rasa ketidakmenentuan (anxiety), konflik dan berbagai perasaan lain yang secara tak tersadari menghalang-halangi dia untuk maju.
Landasan dasar dalam CCL, berbeda jauh dari konsep diatas, tugas utama seorang konselor adalah untukmenghilangkan, atau paling tidak mengurang segala persaan negative para klientnya. Seorang konselor dituntut untuk memiliki s,ikap yang fasilitatif, baik dalam menularka pengetahuannya dan para klien maju dalam satu tahap demi tahap.
Dalam kaitannya dengan dengan keadaan psikologi para siswa. Curran mengajukan enam konsep yang diperlukan untuk menumbuhkan “learning”. Enam konsep ini dicakup dalam satu singkatan yaitu, SARD:
- Security (rasa aman)
- Attention- aggression (perhatian –peran aktif siswa)
- Retention-reflection, dan (refleksi/intropeksi atau tes)
- Discrimination.(penjelasan).

Tahap penguasaan dibagi menjadi lima bagian :
1. Embryonic stage (madasen di celce-murcia & Mcintosh, 1978:35), adalah tahap dimana ketergantungan siswa pada gurunya adalah 100 atau mendekati 100%. Pada tahap ini rasa ketidak menetuan siswa menghalang-halangi dia untuk memakai bahasa asing terutama di depan gurunya dan orang-orang lain yang dia tidak kenal. Tugas guru adalah untuk menghilangkan atau menguarangi perasaaan seperti ini dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan yang layak. Siswa diminta supaya aktifitas yang menjadi minat mereka untuk menyebutkannya dan melakukannya. Kemudian diminta untuk merefleksikan.
2. Self-Assertion Stage, tahap dimana siswa telah mendapat dukungan moral dari rekan senasibnya taupun dari guru mereka. Dan mereka telah mencoba untuk menemukan jati diri mereka sebagai penutur bahasa asing. Pada tahap ini tentu saja bahasa yang mereka gunakan barulah dalam bentuk yang sangat sederhana yang oleh slingker disebut interlanguage, serta ungkapan-ungkpan yang mereka gunakan masih dalam bntuk elementary.
3. Birth Stage, siswa secara bertahap mulai mengurangi pemakaina bahasa ibunya. Dia mulai terbiasa memkai bahasa kedua. Pada tahap ini guru atau konselor harus bertindak bijaksana dan memperhatika segala aspek yang timbul pada tahap ini, dan harus mampu mengatasi lproblem yang dihadapi oleh siswa dengan pendekatan psikologi.
4. Pada tahap ini, siswa tidak lagi banyak diam pada waktu proses embelajaran berlangsung, mereka sudah harus aktif berbicara.
5. Pada tahap terkahir adalah “independent Stage”, tahap dimana siswa telah menguasai semua bahan yang akan dibahas, dan siswa sudah bisa memperluas bahasanya dan memelajalri ula aspek-aspek social dan budaya ada penutur asli



. Teknik Pelaksanaan Pengajaran
Karena dalanm CCL hungan antara guru dan siswa adalah hubungan terapeutik antara seorang klien dengan konselornya, maka bntuk kelas dan proses belajar-mengajar pun berbeda dengan kelas dan cara yang konvensioanl. Dalam CCl tiap kelas terdiri dari enam sampai 12 ,siswa, dan tiap siswa mempnyani seorang konselor. Pengaturan meja dankursi dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuksemacam lingkaran. Konselor berada dibe
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel da-pat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. pembelajaran+ctl Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). Langkah-langkah CTL CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut: 1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. 2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. 3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 4. Ciptakan masyarakat belajar. 5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. 7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara. Karakteristik Pembelajaran CTL 1. Kerjasama. 2. Saling menunjang. 3. Menyenangkan, tidak membosankan. 4. Belajar dengan bergairah. 5. Pembelajaran terintegrasi. 6. Menggunakan berbagai sumber. 7. Siswa aktif. 8. Sharing dengan teman. 9. Siswa kritis guru kreatif. 10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain. 11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, lang-kah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya. Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (je-las dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual le-bih menekankan pada skenario pembelajarannya. Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut: 1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections) Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL. 2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works) Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sisw 3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning) Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri. 4. Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi. 5. Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking) Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu. 6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual) Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya. 7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards) Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya. 8. Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment) Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari..... Baca Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/pengertian-pembelajaran-kontekstual-ctl.html
Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
lakang klien/siswa, dan dapat pula dilakukan dengan pengaturan yang lain. Dalam CCL tidak digunakan satu tesk apapun, guru dan siswa berkolaborasi dan bebas menetuka materi apa yang akan dibahas.


Contextual Teaching And Learning (CTL)


1)      Pengertian Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)
Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti ”hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks) ” Adapun pengertian CTL menurut Tim Penulis Depdiknas (2003: 5) adalah sebagai berikut: Pembelajaran Konstektual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme (contructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling),  refleksi dan penelitian sebenarnya (authentic assessment). Sedangkan menurut Jhonson (2006: 67) yang mendefinisikan pembelajaran kontekstual (CTL) sebagai berikut: Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks pribadi, sosial dan budaya mereka.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan sebuah strategi pembelajaran yang dianggap tepat untuk saat ini karena materi yang diajarkan oleh guru selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan menggunakan pembelajaran kontekstual, materi yang disajikan guru akan lebih bermakna. Siswa akan menjadi peserta aktif dan membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka.
2)      Prinsip-prinsip dalam Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran kontekstual mengacu pada sejumlah prinsip dasar pembelajaran. Menurut Ditjen Dikdasmen Depdiknas 2002, dalam Gafur (2003: 2) menyebutkan bahwa kurikulum dan pembelajaran kontekstual perlu didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 
a)      Keterkaitan, relevansi (relation). Proses belajar hendaknya ada keterkaitan dengan bekal pengetahuan (prerequisite knowledge) yang telah ada pada diri siswa.
b)      Pengalaman langsung (experiencing). Pengalaman langsung dapat diperoleh melalui kegiatan eksplorasi, penemuan (discovery), inventory, investigasi, penelitian dan sebagainya. Experiencing dipandang sebagai jantung pembelajaran kontekstual. Proses pembelajaran akan berlangsung cepat jika siswa diberi kesempatan untuk memanipulasi peralatan, memanfaatkan sumber belajar, dan melakukan bentuk-bentuk kegiatan penelitian yang lain secara aktif.
c)      Aplikasi (applying). Menerapkan fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang dipelajari dalam dengan guru, antara siswa dengan narasumber, memecahkan masalah dan mengerjakan tugas bersama merupakan strategi pembelajaran pokok dalam pembelajaran kontekstual.
d)     Alih pengetahuan (transferring). Pembelajaran kontekstual menekankan pada kemampuan siswa untuk mentransfer situasi dan konteks yang lain merupakan pembelajaran tingkat tinggi, lebih dari pada sekedar hafal.
e)      Kerja sama (cooperating). Kerjasama dalam konteks saling tukar pikiran, mengajukan dan menjawab pertanyaan, komunikasi interaktif antar sesama siswa, antara siswa.
f)       Pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang telah dimiliki pada situasi lain.
Berdasarkan uraian diatas, prinsip-prinsip tersebut merupakan bahan acuan untuk menerapkan metode kontekstual dalam pembelajaran. Implementasi metode kontekstual lebih mengutamakan strategi pembelajaran dari pada hasil belajar, yakni proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
3)      Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Menurut Johnson dalam Nurhadi (2003 : 13), ada 8 komponen yang menjadi karakteristik dalam pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut :
a)      Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningfull connection). Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapatbekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapatbelajar sambil berbuat (learning by doing).
b)     Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masayarakat.
c)      Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning). Siswa melakukan kegiatan yang signifikan : ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya atau hasilnya yang sifatnya nyata.
d)     Bekerja sama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru dan siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, guru membantu siswa memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan salingberkomunikasi.
e)      Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif : dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti.  
f)      Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara pribadinya : mengetahui, memberi perhatian, memberi harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa.
g)     Mencapai standar yang tinggi (reaching high standard). Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi : mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”.
h)     Menggunakan penilain autentik (using authentic assessment). Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari untuk dipublikasikan dalam kehidupan nyata.
4)      Komponen-Komponen Pembelajaran Kontekstual
a)      Kontruktivisme (contructivism)
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak seakan-akan. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata, karena pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman nyata. Menurut Zahorik (1995: 14-22), mengemukakan bahwa terdapat lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, antara lain sebagai berikut:
(1)        Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge).
(2)        Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudianmemperhatikan detailnya.
(3)        Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun konsep sementara (hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu, konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
(4)        Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applyingknowledge).
(5)        Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap straregi pengembangan pengetahuan tersebut.
b)      Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan berbasis CTL. Carin dan Sund (1975) dalam Mulyasa (2005: 108) mengemukakan bahwa inqury adalah the pricess of investigating a problem. Sedangkan Piaget mengemukakan bahwa: Metode inquiry merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaanpertanyaaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain. 
 c)      Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan strategi penting dalam pembelajaran yang berbasis CTL, karena pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari proses bertanya. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Sedangkan bagi siswa bertanya menunjukan ada perhatian terhadap materi yang dipelajari dan kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. 
d)     Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar (learning community) ialah hasil pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Guru dalam pembelajaran kontekstual (CTL) selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu, dan seterusnya. Sehingga kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, keanggotaannya, jumlah bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan ahli ke kelas.
Pengembangan masyarakat belajar (learning community), akan senantiasa mendorong terjadinya proses komunikasi multi arah. Masing-masing pihak yang melakukan kegiatan belajar dapat menjadi sumber belajar. Depdiknas, (2003: 16) Metode pembelajaran dengan tekhnik “learning community” sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam:
(1)   Pembentukan kelompok kecil.
(2)   Pembentukan kelompok besar.
(3)   Mendatangkan ahli ke kelas.
(4)   Bekerja dengan kelas sederajat.
(5)   Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya.
(6)   Bekerja dengan masyarakat.
e)      Pemodelan (modeling)
Komponen CTL yang lain adalah pemodelan. Proses pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, perlu ada model yang bisa ditiru. Tugas guru memberi model tentang bagaimana cara bekerja.  Guru bukan satu-satunya model dalam pembelajaran CTL. Pemodelan disini adalah bahwa dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru oleh para peserta didik. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar, namun pada metode kontekstual guru bukanlah satu-satunya model, karena model dapat juga didatangkan dari luar untuk kemudian dihadirkan di kelas
f)       Refleksi (reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Refleksi dilakukan ketika pelajaran berakhir, siswa merenung tentang kesalahannya dalam belajar, yang baru dia ketahui setelah mendapatkan pengetahuan baru tentang hal itu, dan kemudian ia memperbaiki kesalahannya itu.
g)      Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar perlu diketahui oleh guru agar bisa mengetahui bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Gambaran proses dan kemajuan belajar siswa perlu diketahui sepanjang proses pembelajaran. Karena itu penilaiantidak hanya dilakukan pada akhir periode sekolah, tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.  Menurut Jhonson (2006: 288), penilaian autentik berfokus pada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun keterkaitan dan kerjasama, menanamkan tingkat berpikir yang lebih tinggi.
5)      Keuntungan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)
Adapun keuntungan dari pendekatan CTL adalah:
a)       Pembelajaran menjadi lebih bermakana dan riil, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab materi yang dipelajari siswa akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
b)       Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada seorang siswa, karena metode pembalajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui “ mengalami”  bukan “menghapal”.
6)      Penerapan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)
dalam Pembelajaran Matematika
Penerapan pendekatan pembelajaran dipengaruhi oleh materi yang diajarkan oleh guru. Seperti halnya CTL, materi yang diajarkan harus dapat dikaitkan dengan dunia nyata atau benda-benda konkret sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang diperolehnya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
 COOPERATIVE LEARNING