KUMPULAN METHOD
Sabtu, 09 November 2013
1+1 Guiyomi with Lee Min Ho
http://www.youtube.com/v/Pcq9wVMUsuY?version=3&autohide=1&showinfo=1&feature=share&autohide=1&autoplay=1&attribution_tag=oahuXX5dDhlkfRKzJ-HZJQ
130728 Lee Min Ho doing Gwiyomi - My Everything Global Tour in Shanghai
http://www.youtube.com/v/w7mzCFKTAFU?autohide=1&version=3&autohide=1&feature=share&attribution_tag=Gy3g91Neq67D9LNM8SH04Q&showinfo=1&autoplay=1
Selasa, 16 Juli 2013
Jumat, 28 Juni 2013
Minggu, 02 Juni 2013
kumpulan method of teaching
Materi method of teaching English
1. Multiple intelligences (Yuni Wulandari)
2. Grammar translation method (Rafsanjani)
3. Whole language (Nurmasyitah)
4. Audio lingual method (putrid andriani n Tsaniatul Adawiyah)
5. Self Directed learning (Rahmatul mauliza)
6. Direct method (Yusnita)
7. Content Based instruction (Rindang n Nurazizah)
8. Competency based language teaching (Siti Mukarramah)
9. Communicative language teaching (Hayatun Sakdiah)
10. Community language learning (Kandri)
11. Contextual teaching learning (Wahyu Ratomi Nurcholis n Edy Saputra)
12. Cooperative learning (Naily Fauza n Ayu Mulia)
13. Inquiry based learning (Ainal Hayati)
14. Lexical Approach (Putri Fitria)
15. Sustained Silent reading (Andiyana n Ayu Rizki)
16. Task based instruction (Rika wati n Maulita)
17. Total physical response (Safrina Amni)
18. Project based learning (Arnis Aisiya)
19. Silent way (Annisa n zahara)
20. Suggectopedia (Vera Puspita)
21. Participatory approach (Cut oriza keumala)
22. Problem based learning (Dedi Darmadi)
23. Neurolinguistic programming (Yeni safarina)
24. Learning strategy training (Rosmawati)
25. Natural approach (Nurmalawati n Mulia Hasti Lestari)
26. Blended learning (Halimatus Sakdiah n M.Zauti)
27. Home schooling(Muamarsyah dan Maulana iqbal)
28. Collaborating (Musmuliadi dan Mustaqim Karimuddin)
Pengertian Kecerdasan atau Multiple Intelligences
Apakah Kecerdasan Itu ?
- Kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap
- Ia bagaikan kumpulan kemampuan atau ketrampilan yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan
- Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah; kemampuan untuk menciptakan masalah baru untuk dipecahkan; kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu pelayanan yang berharga dalam suatu kebudayaan masyarakat (Howard Gardner)
Multiple Intelligences
Melalui pengenalan akan Multiple Intelligences, kita dapat mempelajari kekuatan / kelemahan anak dan memberikan mereka peluang untuk belajar melalui kelebihan-kelebihannya.
1. Kecerdasan Linguistik
- Mampu membaca, mengerti apa yang dibaca.
- Mampu mendengar dengan baik dan memberikan respons dalam suatu komunikasi verbal.
- Mampu menirukan suara, mempelajari bahasa asing, mampu membaca karya orang lain.
- Mampu menulis dan berbicara secara efektif.
- Tertarik pada karya jurnalism, berdebat, pandai menyampaikan cerita atau melakukan perbaikan pada karya tulis.
- Mampu belajar melalui pendengaran, bahan bacaan, tulisan dan melalui diskusi, ataupun debat.
- Peka terhadap arti kata, urutan, ritme dan intonasi kata yang diucapkan.
- Memiliki perbendaharaan kata yang luas, suka puisi, dan permainan kata.
2. Kecerdasan Logika – Matematika
- Mengenal dan mengerti konsep jumlah, waktu dan prinsip sebab-akibat.
- Mampu mengamati objek dan mengerti fungsi dari objek tersebut.
- Pandai dalam pemecahan masalah yang menuntut pemikiran logis.
- Menikmati pekerjaan yang berhubungan dengan kalkulus, pemograman komputer, metode riset.
- Berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti-bukti, membuat hipotesis, merumuskan dan membangun argumentasi kuat.
- Tertarik dengan karir di bidang teknologi, mesin, teknik, akuntansi, dan hukum.
- Menggunakan simbol-simbol abstrak untuk menjelaskan konsep dan objek yang konkret.
- Mengenal emosi diri sendiri dan orang lain, serta mampu menyalurkan pikiran dan perasaan.
- Termotivasi dalam mengejar tujuan hidup.
- Mampu bekerja mandiri, mengembangkan kemampuan belajar yang berkelanjutan dan mau meningkatkan diri.
- Mengembangkan konsep diri dengan baik.
- Tertarik sebagai konselor, pelatih, filsuf, psikolog atau di jalur spiritual.
- Tertarik pada arti hidup, tujuan hidup dan relevansinya dengan keadaaan saat ini.
- Mampu menyelami / mengerti kerumitan dan kondisi manusia.
Profesi: ahli psikologi, ulama, ahli terapi, konselor, ahli teknologi, perencana program, pengusaha, dan sebagainya.
4. Kecerdasan Interpersonal- Memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pandai menjalin hubungan sosial.
- Mampu merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku, dan harapan orang lain.
- Memiliki kemampuan untuk memahami orang lain dan berkomunikasi dengan efektif, baik secara verbal maupun non-verbal.
- Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kelompok yang berbeda, mampu menerima umpan balik yang disampaikan orang lain, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
- Mampu berempati dan mau mengerti orang lain.
- Mau melihat sudut pandang orang lain.
- Menciptakan dan mempertahankan sinergi.
5. Kecerdasan Musikal
- Menyukai banyak jenis alat musik dan selalu tertarik untuk memainkan alat musik.
- Mudah mengingat lirik lagu dan peka terhadap suara-suara.
- Mengerti nuansa dan emosi yang terkandung dalam sebuah lagu.
- Senang mengumpulkan lagu, baik CD, kaset, atau lirik lagu.
- Mampu menciptakan komposisi musik.
- Senang improvisasi dan bermain dengan suara.
- Menyukai dan mampu bernyanyi.
- Tertarik untuk terjun dan menekuni musik, baik sebagai penyanyi atau pemusik.
- Mampu menganalisis / mengkritik suatu musik.
Profesi: DJ, musikus,
pembuat instrumen, tukang stem piano, ahli terapi musik, penulis lagu,
insinyur studio musik, dirigen orkestra, penyanyi, guru musik, penulis
lirik lagu, dan sebagainya.
6. Kecerdasan Visual – Spasial- Senang mencoret-coret, menggambar, melukis dan membuat patung.
- Senang belajar dengan grafik, peta, diagram, atau alat bantu visual lainnya.
- Kaya akan khayalan, imaginasi dan kreatif.
- Menyukai poster, gambar, film dan presentasi visual lainnya.
- Pandai main puzzle, mazes dan tugas-lugas lain yang berkaitan dengan manipulasi.
- Belajar dengan mengamati, melihat, mengenali wajah, objek, bentuk, dan warna.
- Menggunakan bantuan gambar untuk membantu proses mengingat.
.
7. Kecerdasan Kinestetik – Jasmani- Merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara trampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran, perasaan, dan mampu bekerja dengan baik dalam menangani objek.
- Memiliki kontrol pada gerakan keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.
- Menyukai pengalaman belajar yang nyata seperti field trip, role play, permainan yang menggunakan fisik.
- Senang menari, olahraga dan mengerti hidup sehat.
- Suka menyentuh, memegang atau bermain dengan apa yang sedang dipelajari.
- Suka belajar dengan terlibat secara langsung, ingatannya kuat terhadap apa yang dialami atau dilihat.
8. Kecerdasan Naturalis
- Suka mengamati, mengenali, berinteraksi, dan peduli dengan objek alam, tanaman atau hewan.
- Antusias akan lingkungan alam dan lingkungan manusia.
- Mampu mengenali pola di antara spesies.
- Senang berkarir di bidang biologi, ekologi, kimia, atau botani.
- Senang memelihara tanaman, hewan.
- Suka menggunakan teleskop, komputer, binocular, mikroskop untuk mempelajari suatu organisme.
- Senang mempelajari siklus kehidupan flora dan fauna.
- Senang melakukan aktivitas outdoor, seperti: mendaki gunung, scuba diving (menyelam).
THE GRAMMAR-TRANSLATION METHOD (1890s-1930s) - The Grammar-Translation Method, Instant was used by language teachers for many years. It is expected to help students read and appreciate foreign language literature. By studying the grammar of the language targets, students would Become more familiar with the grammar of their native language and that this familiarity would help them speak and write the native language better.
Often translated language students cumbersome volumes from Classical Greek or Latin into English vía this approach.
It consisted mainly of exhaustive use of dictionaries, Explanations of
grammatical rules (in English), some sample sentences, and exercise
drills to practice the new structures. Little opportunity f
real or second-language acquisition Existed then.
real or second-language acquisition Existed then.
The principles of the Grammar-Translation Method
1)
The goals of learning a foreign language is to be Able to read
literature in the target language, learn grammar rules and vocabulary,
and develop mental acuity.
2) Teacher has authority, while students follow instructions to learn what the teacher knows.
3)
Students learn by translating from one language to the other,
translating Often the reading passages in the target language to the
native language. Grammar is learned deductively on the basis of grammar, then apply them to other examples.
4) Most interaction is teacher-to-students, students-initiated interaction, and student-student interaction is minimal.
5) Literary language seen as superior to spoken language; culture equated with literature and fine arts.
6)
Vocabulary and grammar are emphasized; reading and writing are the
primary skills; pronunciation and other speaking / listening skills not
emphasized.
7) Native language provides the key to meanings in the target language; native language is used freely in class.
8)
Tests require translation from the native to the target language and
the native language to the target, applying grammar rules, and answering
questions about foreign culture.
9) Heavy emphasis placed on correct answer and teacher supplies correct answers when students can not.
The Techniques Used in the Grammar-Translation Method
1)
Translation of a literary passage, that is, students translate a
reading passage from the target of language into their native language.
2)
Reading comprehension questions, that is, students answer the questions
in the target language based on their understanding of the reading
passage.
3)
Antonyms / synonyms, that is, students are given one set of words and
are asked to find antonyms / synonyms ion the reading passage.
4)
Cognates, that is, students are taught to recognize cognates by
learning the spelling or sound patterns that Correspond between the
languages.
5)
Deductive application of the rule, that is, students are given a series
of sentences with words missing and they fill the blanks.
6)
Memorization, that is, students are given lists of the target language
vocabularies and their native language equivalents and are asked to
memorize them.
7) Use words in sentence, that is, students are asked to make up sentences in roomates they use the new words.
8) Composition, that is, students are asked to write the composition in the target language based on the topic give. AJM
WHOLE LANGUAGE
Whole language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Edelsky, 1991; Froese, 1990; Goodman, 1986; Weafer, 1992, dalam Santosa, 2004). Para ahli whole language berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah (Rigg, 1991). Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan tanda baca, umpamanya, diajarkan sehubungan dengan pembelajaran keterampilan menulis. Demikian juga pembelajaran membaca dapat diajarkan bersamaan dengan pembelajaran berbicara, pembelajaran sastra dapat disajikan bersamaan dengan pembelajaran membaca dan menulis ataupun berbicara. Selain itu, dalam pendekatan whole language , pembelajaran bahasa dapat juga disajikan sekaligus dengan materi pelajaran lain, umpamanya bahasa-matematika, bahasa-IPS, bahasa-sains, bahasa-agama. Pendekatan whole language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu (integrated ) (Robert dalam Santosa, 2004:2.3). Anak termotivasi untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang dipelajarinya memang bermakna bagi mereka. Orang dewasa, dalam hal ini guru, berkewajiban untuk menyediakan lingkungan yang Metodologi Pembelajaran menunjang untuk siswa agar mereka dapat belajar dengan baik. Fungsi guru dalam kelas whole language berubah dari fungsi desiminator informasi menjadi fasilitator (Lamme & Hysmith, 1993).
Ciri-ciri Kelas Whole Language
a. Kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan.
Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja
siswa menghiasi dinding dan bulletin board. Karya tulis siswa dan
chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin board yang dibuat oleh
guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakaan yang dilengkapi
berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus,
buku petunjuk dan berbagai barang cetak lainnya.
b. Siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.
c. Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
d. Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru.
e. Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Dalam hal ini interaksi guru adalah multiarah.
f. Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru tidak mengharapkan kesempurnaan, yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima.
g. Siswa mendapat balikan (feed back) positif baik dari guru maupun temannya. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri. Dari ketujuh ciri tersebut dapat terlihat bahwa siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas meyampaikan materi. Sebagai fasilitator guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.
WHOLE LANGUAGE
Whole language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Edelsky, 1991; Froese, 1990; Goodman, 1986; Weafer, 1992, dalam Santosa, 2004). Para ahli whole language berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah (Rigg, 1991). Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan tanda baca, umpamanya, diajarkan sehubungan dengan pembelajaran keterampilan menulis. Demikian juga pembelajaran membaca dapat diajarkan bersamaan dengan pembelajaran berbicara, pembelajaran sastra dapat disajikan bersamaan dengan pembelajaran membaca dan menulis ataupun berbicara. Selain itu, dalam pendekatan whole language , pembelajaran bahasa dapat juga disajikan sekaligus dengan materi pelajaran lain, umpamanya bahasa-matematika, bahasa-IPS, bahasa-sains, bahasa-agama. Pendekatan whole language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu (integrated ) (Robert dalam Santosa, 2004:2.3). Anak termotivasi untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang dipelajarinya memang bermakna bagi mereka. Orang dewasa, dalam hal ini guru, berkewajiban untuk menyediakan lingkungan yang Metodologi Pembelajaran menunjang untuk siswa agar mereka dapat belajar dengan baik. Fungsi guru dalam kelas whole language berubah dari fungsi desiminator informasi menjadi fasilitator (Lamme & Hysmith, 1993).
Ciri-ciri Kelas Whole Language
b. Siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.
c. Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
d. Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru.
e. Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Dalam hal ini interaksi guru adalah multiarah.
f. Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru tidak mengharapkan kesempurnaan, yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima.
g. Siswa mendapat balikan (feed back) positif baik dari guru maupun temannya. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri. Dari ketujuh ciri tersebut dapat terlihat bahwa siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas meyampaikan materi. Sebagai fasilitator guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.
The Audio-Lingual Method
Metode audio-lingual adalah salah satu metode pembelajaran dan pengajaran bahasa khususnya bahasa asing. Pada awalnya metode ini diperkenalkan oleh pakar atau ahli bahasa inggris yang bernama Charles Fries dari Universitas Michigan di Amerika Serikat pada akhir tahun 1950 an dan masih berkembang hingga sekarang. Metode ini menekankan pada penguasaan tata bahasa dan tidak menekankan pada penguasaan kosakata. Inilah yang membedakan antara metode audio-lingual dengan metode langsung walaupun pada awalnya metode audio-lingual disebut juga dengan metode langsung. Pada metode ini siswa awalnya diperkenalkan dengan suatu bahasa, kemudian mereka berbicara, membaca dan menulis.
Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi tujuan dari metode audio-lingual, antara lain:
1. Kecakapan dalam pengucapan dan tata bahasa.
2. Kemampuan merespon dengan cepat dan memiliki kemampuan berbicara yang baik dan tepat.
3. Memiliki pengetahuan yang cukup tentang kosakata dan mampu menerapkannya didalam penggunaan tata bahasa.
Larsen Freeman dalam bukunya yang berjudul “ Teknik dan Prinsip-Prinsip dalam Pengajaran Bahasa “(1986:45-47) memberikan penggambaran umum teknik-teknik yang terkait dengan metode audio-lingual, antara lain:
1. Dialog Memorization
Siswa diberi dialog singkat untuk menghafal lalu mereka harus menirukannya dan di praktikkan dalam permainan peran untuk memainkan dialog. Contoh dialog yang dapat digunakan adalah :
Objektif: Percobaan dengan bahasa verbal dan non-unsur (mis. gerakan) untuk mencapai efek untuk tujuan tertentu dan peserta.
Contoh :
Dialog One
Person 1: Good morning, Bill.
Person 2: Good morning, Sally.
Person 1: How are you?
Person 2: Fine thanks, and you?
Person 1: Fine. Where are you going?
Person 2: I'm going to the post office.
Person 1: I am too. Shall we go together?
Person 2: Sure. Let's go.
Dialog Two
Person 1: Hello sir. Can I help you?
Person 2: Hello, I am looking for some shoes.
Person 1: What kind of shoes would you like?
Person 2: I would like some running shoes.
Person 1: Right this way, sir.
Person 2: These look nice.
Person 1: Those are ten dollars.
Person 2: I'll buy them, thank you.
2. Backward Build-Up
Memberikan kepada siswa sebuah kalimat yang terpisah-pisah dan mereka harus menemukannya. Siswa mengulang dari setiap akhir kalimat yang dibacakan oleh guru dan menambahkan kata disetiap kalimat yang akan dibaca selanjutnya secara berurutan.
Objektif: Mengambil andil dalam berbagi pengalaman tentang bahasa.
Contoh :
Teacher : Repeat after me: Post office
Class : Post office
Teacher : to the post office
Class : to the post office
Teacher : going to the post office
Class : going to the post office
Teacher : I'm going to the post office.
Class : I'm going to the post office.
3. Transformation Drills
Seorang guru menyediakan beberapa pertanyaan dan kemudian diubah kedalam sebuah kalimat pernyataan oleh siswa. Kemudian kalau seorang guru ingin mengembangkan lebih jauh didalam teknik ini maka siswa setelah membuat kalimat pernyataan maka mereka harus membuat kalimat pertanyaan dari kalimat pernyataan sebelumnya.
Objektif: Pilih dari beberapa dari kata pilihan dan gunakan kalimat sederhana agar mudah untuk menghubungkan antara ide and informasi.
Contoh:
a. Do you like school?
b. Are you having fun?
c. Did the cat climb the tree?
d. Are there ghosts in that house?
e. Does your Mom do the laundry?
f. Is your Mom cooking this week?
g. Do your brothers work in the pig barn?
h. Are you learning about animals in school?
i. Do you enjoy going to weddings?
j. What should we do for the Christmas concert this year?
4. Complete The Dialog
Siswa mengisi sebuah kalimat dialog yang kosong yang telah diberikan oleh guru dan mereka harus melengkapi dengan kata yang tepat atau lebih mendekati makna kalimat yang selanjutnya.
Objektif: Membuat koneksi antara teks, pengetahuan dan pengalaman pribadi.
Contoh:
1. Yesterday we went for a ___________________ around the school ground. The school is a __________________ building. The door is ____________________. On our walk we saw_______________________. We ______________________to walk.
2. (girl) My name is ____________________. I am ___________________years old.
My hair is __________________. My dress is _______________________.
I like to _____________________________.
3. (boy) My name is_____________________. I am ________________ years old. My hair is______________________. My pants are___________________. My shirt is_______________________. I like to ______________________.
4. I was on a trip to______________________. I saw_________________. My favorite part was___________________. The part I didn't like was ______________________.
5. I like to _________________________. It is my favorite thing to do because _____________________________. When I am ______________________I feel ___________________________________.
5. Dictation
Guru membacakan sebuah kata atau kalimat kemudian meminta siswa untuk menuliskannya kedalam sebuah kertas dan kemudian siswa tersebut membacakan didepan kelas.
Objektif: Mendengarkan dengan seksama agar mendapatkan inti dari informasi yang diberikan.
Contoh:
Teacher : I always get up at 6 o’clock.
Siswa menuliskannya kedalam sebuah kertas dan kemudian dipresentasikan didepan kelas.
6. Flashcards
Seorang guru menuliskan sebuah kata didalam sebuah kartu atau kertas yang kemudian diberikan kepada siswa dan selanjutnya siswa mengembangkan menjadi sebuah kalimat atau penyataan dengan tujuan untuk mengembangkan pola pikir siswa berdasarkan pengalamannya.
Objektif: Membuat koneksi antara teks, pengetahuan dan pengalaman pribadi.
Contoh:
Pig School Teacher
Geese Kitchen Cow
Milk Wedding Harvest
7. Chain Drill
Guru memberikan pertanyaan kepada seorang siswa dan siswa tersebut mereponsnya dan memberikan pernyataan kepada guru tersebut kemudian guru tersebut melemparkan kembali kepada siswa yang lain dan begitu seterusnya.
Objektif: Berpartisipasi dalam pengalaman berbahasa.
Contoh:
Teacher : What color in your uniform?
Student I : Blue, Sir.
Teacher : What color in your shoe?
Student II : Black, Sir.
Etc.
8. The Alphabet Game
Guru memilih satu kategori, seperti supermarket. Lalu murid pertama berkata, "Aku akan ke supermarket. Aku butuh beberapa apel. " (Nama murid pertama yang diawali dengan abjad A.) Siswa kedua berkata, "Aku akan ke supermarket. Aku butuh beberapa apel dan aku butuh beberapa pisang. " Permainan dilanjutkan dengan cara ini berturut-turut dengan masing-masing siswa menambahkan item yang diawali dengan huruf berikutnya setelah mengulangi item yang sebelumnya mereka sebut.
Objektif: Berpartisipasi dalam berbagi pengalaman mendengarkan dan berbagi ide dan pengalaman dalam kelompok kecil maupun kelompok besar.
Sebagai kesimpulan menurut kelompok kami bahwa didalam pengajaran bahasa pada metode audio-lingual ini menekankan pada terjadinya sebuah komunikasi yang lancar di antara guru dan siswa. Dengan kata lain, sebuah kompetensi komunikatif yang menjadi tujuan utamanya. Dengan metode ini, siswa akan lebih sering terlibat di dalam proses belajar mengajar karena mereka dituntut untuk berkomunikasi dan mendengarkan materi yang disampaikan guru mereka. Dengan demikian keterlibatan siswa jadi lebih maksimal. Siswa juga jadi termotivasi untuk belajar karena metode ini menuntut mereka untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Namun ada sebuah kelemahan didalam metode ini yaitu tidak mengajarkan dan menekankan pada penguasaan kosakata namun pada tatabahasa. Sehingga penguasaan bahasa yang dimiliki peserta didik menjadi terbatas hanya apa yang terdapat dalam konteks wacana yang diberikan saja.
Namun ada beberapa kelebihan dalam metode audio-lingual ini yaitu peserta lebih cepat berkembang dalam kompetensi berbicara dan mendengarkan karena sebagian besar teknik yang dipakai dalam metode ini adalah teknik yang sebagian besar menekankan teknik pada penguasaan berbicara dan mendengarkan.
Direct Method - Sepertihalnya Grammar-translation Mehod,
Direct Method bukanlah sebuah metode yang baru. Prinsip-prinsipnya
sudah di gunakan oleh guru bahasa bertahun-tahun lalu. Metode ini
mempunyai tujuan instruksional bahwa pembelajaran bahasa asing ditujukan
agar bisa berkomunikasi. Sejak Grammar-translation Method
tidak sangat efektif dalam menyiapkan siswa untuk mengguanakan bahasa
yang dipelajari (target lanugage) secara komunikatif, Direct Method
menjadi sangat populer.
Direct
Method memiliki satu peraturan dasar yaitu tidak diperbolehkannya jenis
terjemahan. Asal kata Direct Method faktanya karena pengajaran bahasa
jika dengan menggunakan metode ini disampaikan secara langsung (direct)
dengan bantuan visual tanpa adanya penggunaan bahasa asal (native
language) siswa.
Tujuan Penggunaan Direct Method
Guru
yang menggunakan Direct Method menginginkan siswanya belajar bagaimana
berkomunikasi dengan mengguanakan bahasa yang dipelajari (target
language). Agar harapan itu terwujud, siswa haru belajar berfikir
mengguankan bahasa yang dipelajari (target language) dengan tidak
diperbolehkannya bahasa asil (native language) muncul selama pelajaran.
Peran Guru-siswa Dalam Direct Method
Walaupun peran guru pada metode ini adalah sebagai 'director' kelas, peran siswa lebih aktif jika dibandingkan pada Grammar-translation Method. Guru dan siswa lebih seperti partners dalam preose pembelajaran/ pengajaran.
Karakteristik Proses Pembelajaran Dalam Direct Method
Guru
yang menggunakan metode ini memaksa siswa untuk memahami arti dari
bahasa sasaran (target language) secara langsung. Untuk melakukannya,
ketika guru mengenalkan sebuah kata atau phrase bahasa sasaran, guru
mendemonstrasikan artinya melalui penggunaan realia, gamba, atau
pantomim; guru tidak boleh mengartikannya secara langusung ke bahasa
asli (native language) siswa.
Interaksi Guru-siswa Dalam Direct Method
Interaksi
antara guru dengan siswa berjalan dari dua arah, baik dari guru ke
siswa atau dari siswa ke guru, tetapi kebanyakan interaksi berjalan dari
guru ke siswa. Interaksi antar siswa juga banyak terjadi dalam metode
ini.
Language Skill Dalam Direct Method
Vocabulary
sangat ditekankan melebihi grammar. Meskipun metode ini dapat berkerja
pada semua basic skills bahasa Inggris seperti reading, writing,
speaking, dan listening dari awal pembelajaran, tetapi komunikasi secara
lisan dilihat sebagai basic skill. Pronunciation juga mendapatkan
tempat dalam metode ini, dari awal pembelajaran hingga akhir
pembelajaran.
Evaluasi Dalam Direct Method
Formal
evaluation tidak begitu banyak dijumpai dalam metode ini, tatapi dalam
Direct Method, siswa diminta untuk menggunakan target language bukan
untuk menjelaskan pengetahuan mereka tentang target language. Siswa
diminta untuk menggunkan target language baik secara lisan atau tulisan.
Sebagai contoh evaluasi dalam metode ini, siswa mungkin diwawancarai
secara langsung oleh guru atau mungkin diminta untuk menuliskan secara
langsung sebuah paragraph tentang sesuatu yang telah mereka pelajari.
CONTENT BASED LEARNING
Instruksi Content-Based (CBI) adalah pendekatan yang signifikan dalam pendidikan bahasa (Brinton, Salju, & Wesche, 1989). CBI dirancang untuk memberikan pelajar bahasa kedua instruksi dalam isi dan bahasa.
Secara historis, isi kata telah berubah maknanya dalam pengajaran bahasa. Konten yang digunakan untuk merujuk pada metode tata bahasa-terjemahan , metodologi audio lingual dan kosakata atau pola suara dalam bentuk dialog. Baru-baru ini, konten diartikan sebagai penggunaan materi pelajaran sebagai kendaraan untuk kedua atau asing pengajaran / pembelajaran bahasa.
2. CBI mendukung dikontekstualisasikan pembelajaran, peserta didik diajarkan bahasa yang berguna yang tertanam dalam konteks wacana yang relevan dan bukan sebagai fragmen bahasa terisolasi. Oleh karena itu siswa membuat hubungan yang lebih besar dengan bahasa & apa yang mereka sudah tahu.
3. Informasi yang kompleks disampaikan melalui konteks kehidupan nyata bagi siswa untuk memahami dengan baik & menyebabkan motivasi intrinsik.
4. Dalam informasi CBI diulang dengan strategis penyampaian informasi pada waktu yang tepat & situasi memaksa siswa untuk belajar dari gairah.
5. Fleksibilitas yang lebih besar & kemampuan beradaptasi dalam kurikulum dapat digunakan sesuai minat siswa.
Sebagai pendidik menyadari bahwa untuk berhasil menyelesaikan tugas akademik, kedua bahasa (L2) peserta didik harus menguasai bahasa Inggris sebagai bentuk bahasa ( grammar , kosakata dll) dan bagaimana bahasa Inggris digunakan dalam isi inti kelas, mereka mulai menerapkan berbagai pendekatan seperti instruksi terlindung dan belajar untuk belajar di kelas CBI. Instruksi terlindung lebih merupakan pendekatan guru-driven yang menempatkan tanggung jawab di pundak guru. Ini adalah kasus dengan menekankan beberapa pedagogis kebutuhan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan mereka, seperti guru memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran, pengetahuan tentang strategi instruksional untuk konten dipahami dan mudah diakses, pengetahuan tentang proses belajar L2 dan kemampuan untuk menilai kognitif, bahasa dan strategi sosial yang siswa gunakan untuk menjamin pemahaman isi sementara mempromosikan pengembangan akademik bahasa Inggris. Belajar untuk belajar lebih merupakan pendekatan yang berpusat pada siswa yang menekankan pentingnya memiliki peserta didik berbagi tanggung jawab ini dengan para guru. Belajar untuk belajar menekankan peran penting bahwa strategi pembelajaran bermain dalam proses pembelajaran.
COPETENCY BASED LANGUAGE TEACHING
CBLT is an application of the principles of Competency-based Education (CBE) to language teaching. CBE is an educational movement that focuses on outcomes or outputs of learning in the development of language programs. It emerged in The United States in the 1970s and refers to an educational movement that educates defining educational goals in terms of precise measurable descriptions of the knowledge, skills, and behaviors students should possess at the end of a course of study. CBE addresses what the learners are expected to do with the language, however they learned to do it.
The Approaches in CBLT
There are several principals in CBLT:
1. Language is a vehicle for the expression of functional meaning (functional view)
2. Language is a vehicle for the realization of interpersonal relation and for the performance of social transactions between individuals. Language is a tool for the creation and maintenance of social relations. (interactional view)
3. CBLT is built around the notion of communicative competence and seeks to develop functional communication skills in learners.
4. CBLT shares with behaviorist views of learning, the notion that language form can be inferred from language function; that is, certain life encounters call for certain kinds of language.
. The Implementation of CBLT
Auerbach in Richards and Rodgers (2001:145) provides a useful review of factors involved in the implementation of CBE programs in ESL, and indentifies eight key features:
1. A focus on successful functioning in society
2. A focus on life skills
3. Task -or performance- centered orientation
4. Modularized instructions
5. Outcomes that are made explicit a priory
6. Continuous and ongoing assessment
7. Demonstrated mastery of performance objectives
8. Individualized, student-centered instruction
. The Competencies Involved in CBLT
CBLT is built around the notion of communicative competence:
1. Grammatical competence
It refers to linguistic competence and the domain of grammatical and lexical capacity.
2. Sociolinguistic competence
It refers to an understanding of the social context in which communication takes place, including role relationship, the shared information of the participants, and the communicative purpose for their interaction.
3. Discourse competence
It refers to the interpretation of individual message elements in terms of their interconnectedness and of how meaning is represented in relationship to the entire discourse or text.
4. Strategic competence
It refers to the coping strategies that the communicators employ to initiate, terminate, maintain, repair, and redirect communication
. The Target of Learner
Basically, CBLT can be used in all levels of students. In Indonesia, there are academic competencies that must be achieved by students, known as Standar Kompetensi. Stated in Peraturan Menteri No. 23/2006, “Standar Kompetensi adalah ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.”
But CBLT is used best for the learners who want to work and live in English-used atmosphere, for example working in English speaking Company.
Secara historis, isi kata telah berubah maknanya dalam pengajaran bahasa. Konten yang digunakan untuk merujuk pada metode tata bahasa-terjemahan , metodologi audio lingual dan kosakata atau pola suara dalam bentuk dialog. Baru-baru ini, konten diartikan sebagai penggunaan materi pelajaran sebagai kendaraan untuk kedua atau asing pengajaran / pembelajaran bahasa.
Manfaat instruksi berbasis konten
1. Peserta didik yang terkena cukup banyak bahasa melalui konten merangsang. Peserta didik mengeksplorasi konten yang menarik & terlibat dalam kegiatan yang tergantung pada bahasa yang sesuai. Belajar bahasa menjadi otomatis.2. CBI mendukung dikontekstualisasikan pembelajaran, peserta didik diajarkan bahasa yang berguna yang tertanam dalam konteks wacana yang relevan dan bukan sebagai fragmen bahasa terisolasi. Oleh karena itu siswa membuat hubungan yang lebih besar dengan bahasa & apa yang mereka sudah tahu.
3. Informasi yang kompleks disampaikan melalui konteks kehidupan nyata bagi siswa untuk memahami dengan baik & menyebabkan motivasi intrinsik.
4. Dalam informasi CBI diulang dengan strategis penyampaian informasi pada waktu yang tepat & situasi memaksa siswa untuk belajar dari gairah.
5. Fleksibilitas yang lebih besar & kemampuan beradaptasi dalam kurikulum dapat digunakan sesuai minat siswa.
Dibandingkan dengan pendekatan lain
Pendekatan CBI sebanding ke Bahasa Inggris untuk Keperluan Khusus (ESP), yang biasanya untuk kebutuhan kejuruan atau pekerjaan atau Inggris untuk Keperluan Akademik (EAP). Tujuan dari CBI adalah untuk mempersiapkan siswa untuk memperoleh bahasa saat menggunakan konteks materi pelajaran sehingga siswa belajar bahasa dengan menggunakannya dalam konteks yang spesifik. Daripada belajar bahasa di luar konteks, itu dipelajari dalam konteks subjek akademis tertentu.Sebagai pendidik menyadari bahwa untuk berhasil menyelesaikan tugas akademik, kedua bahasa (L2) peserta didik harus menguasai bahasa Inggris sebagai bentuk bahasa ( grammar , kosakata dll) dan bagaimana bahasa Inggris digunakan dalam isi inti kelas, mereka mulai menerapkan berbagai pendekatan seperti instruksi terlindung dan belajar untuk belajar di kelas CBI. Instruksi terlindung lebih merupakan pendekatan guru-driven yang menempatkan tanggung jawab di pundak guru. Ini adalah kasus dengan menekankan beberapa pedagogis kebutuhan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan mereka, seperti guru memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran, pengetahuan tentang strategi instruksional untuk konten dipahami dan mudah diakses, pengetahuan tentang proses belajar L2 dan kemampuan untuk menilai kognitif, bahasa dan strategi sosial yang siswa gunakan untuk menjamin pemahaman isi sementara mempromosikan pengembangan akademik bahasa Inggris. Belajar untuk belajar lebih merupakan pendekatan yang berpusat pada siswa yang menekankan pentingnya memiliki peserta didik berbagi tanggung jawab ini dengan para guru. Belajar untuk belajar menekankan peran penting bahwa strategi pembelajaran bermain dalam proses pembelajaran.
Memotivasi siswa
Menjaga siswa termotivasi dan tertarik adalah dua faktor penting yang mendasari instruksi berbasis konten. Motivasi dan minat sangat penting dalam mendukung keberhasilan siswa dengan menantang, kegiatan informatif bahwa keberhasilan dukungan dan yang membantu siswa belajar keterampilan kompleks (Grabe & Stoller, 1997). Ketika siswa termotivasi dan tertarik pada materi yang mereka pelajari, mereka membuat hubungan yang lebih baik antara topik, elaborasi dengan materi pembelajaran dan dapat mengingat informasi yang lebih baik (Alexander, Kulikowich, & Jetton, 1994: Krapp, Hidi, & Renninger, 1992). Singkatnya, ketika seorang siswa termotivasi secara intrinsik siswa mencapai lebih. Hal ini pada gilirannya menyebabkan persepsi keberhasilan, untuk mendapatkan atribut positif yang akan terus pola belajar melingkar keberhasilan dan bunga. Krapp, Hidi dan Renninger (1992) menyatakan bahwa, "minat situasional, dipicu oleh faktor lingkungan, bisa menimbulkan atau berkontribusi pada pengembangan kepentingan individu tahan lama" (hal. 18). Karena CBI adalah student centered, salah satu tujuannya adalah untuk membuat siswa tertarik dan motivasi yang tinggi dengan menghasilkan instruksi konten merangsang dan bahan.Keterlibatan siswa aktif
Karena berada di bawah rubrik lebih umum pengajaran bahasa yang komunikatif (CLT), kelas CBI adalah pembelajar daripada teacher centered (Littlewood, 1981). Dalam kelas tersebut, siswa belajar melalui melakukan dan secara aktif terlibat dalam pembelajaran proses. Mereka tidak tergantung pada guru untuk mengarahkan semua belajar atau menjadi sumber dari semua informasi. Pusat CBI adalah keyakinan bahwa belajar tidak hanya terjadi melalui paparan input guru, tetapi juga melalui rekan input dan interaksi. Dengan demikian, siswa yang menganggap aktif, peran sosial dalam kelas yang melibatkan pembelajaran interaktif, negosiasi , pengumpulan informasi dan co-konstruksi makna (Lee dan VanPatten, 1995). William Glasser "teori kontrol" mencontohkan upaya untuk memberdayakan siswa dan memberi mereka suara dengan berfokus pada dasar, kebutuhan manusia mereka: Kecuali siswa diberi kekuasaan, mereka dapat mengerahkan kekuatan apa yang mereka miliki untuk menggagalkan belajar dan prestasi melalui perilaku yang tidak pantas dan biasa-biasa saja. Dengan demikian, penting bagi guru untuk memberikan siswa suara, terutama dalam iklim pendidikan saat ini, yang didominasi oleh standarisasi dan pengujian (Simmons dan Page, 2010). [1]Kesimpulan
Integrasi bahasa & konten pengajaran dirasakan oleh Komisi Eropa sebagai "cara terbaik untuk membuat kemajuan dalam bahasa asing". CBI efektif meningkatkan kemampuan bahasa Inggris peserta didik '& mengajarkan mereka keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam berbagai profesi. Dengan CBI, peserta didik secara bertahap mendapatkan kontrol yang lebih besar dari bahasa Inggris, memungkinkan mereka untuk berpartisipasi secara penuh dalam lingkungan akademik & sosial yang semakin kompleks.COPETENCY BASED LANGUAGE TEACHING
. Competency-Based Language Teaching
CBLT is an application of the principles of Competency-based Education (CBE) to language teaching. CBE is an educational movement that focuses on outcomes or outputs of learning in the development of language programs. It emerged in The United States in the 1970s and refers to an educational movement that educates defining educational goals in terms of precise measurable descriptions of the knowledge, skills, and behaviors students should possess at the end of a course of study. CBE addresses what the learners are expected to do with the language, however they learned to do it.
The Approaches in CBLT
There are several principals in CBLT:
1. Language is a vehicle for the expression of functional meaning (functional view)
2. Language is a vehicle for the realization of interpersonal relation and for the performance of social transactions between individuals. Language is a tool for the creation and maintenance of social relations. (interactional view)
3. CBLT is built around the notion of communicative competence and seeks to develop functional communication skills in learners.
4. CBLT shares with behaviorist views of learning, the notion that language form can be inferred from language function; that is, certain life encounters call for certain kinds of language.
. The Implementation of CBLT
Auerbach in Richards and Rodgers (2001:145) provides a useful review of factors involved in the implementation of CBE programs in ESL, and indentifies eight key features:
1. A focus on successful functioning in society
2. A focus on life skills
3. Task -or performance- centered orientation
4. Modularized instructions
5. Outcomes that are made explicit a priory
6. Continuous and ongoing assessment
7. Demonstrated mastery of performance objectives
8. Individualized, student-centered instruction
. The Competencies Involved in CBLT
CBLT is built around the notion of communicative competence:
1. Grammatical competence
It refers to linguistic competence and the domain of grammatical and lexical capacity.
2. Sociolinguistic competence
It refers to an understanding of the social context in which communication takes place, including role relationship, the shared information of the participants, and the communicative purpose for their interaction.
3. Discourse competence
It refers to the interpretation of individual message elements in terms of their interconnectedness and of how meaning is represented in relationship to the entire discourse or text.
4. Strategic competence
It refers to the coping strategies that the communicators employ to initiate, terminate, maintain, repair, and redirect communication
. The Target of Learner
Basically, CBLT can be used in all levels of students. In Indonesia, there are academic competencies that must be achieved by students, known as Standar Kompetensi. Stated in Peraturan Menteri No. 23/2006, “Standar Kompetensi adalah ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.”
But CBLT is used best for the learners who want to work and live in English-used atmosphere, for example working in English speaking Company.
COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING
Communicative Language Teaching (CLT) merupakan suatu metode pengajaran bahasa yang merupakan pengembangan dari metode-metode sebelumnya seperti metode Situational Language Teaching dan metode Audio Lingual.
Salah satu ciri utama dari CLT adalah adanya kombinasi antara
aspek-aspek bahasa secara fungsional dan struktural. Secara struktural,
CLT menekankan pada sistem grammar atau tata bahasa, sedangkan fungsional menekankan pada penggunaan bahasa itu.
CLT
juga menekankan pada situasi, misalnya dalam situasi yang bagaimana
suatu tuturan diucapkan. Dalam CLT terdapat berbagai kemampuan berbahasa
yang terintegrasi (integrated skills) yang mencakup kemampuan reading, writing, listening, speaking, vocabulary, dan grammar.
Jadi, melalui CLT ini para pembelajar bahasa asing diharapkan dapat
menguasai atau terampil berbahasa, tidak hanya menulis tetapi juga
berbicara dan tentunya dengan tata bahasa yang benar.
Adapun beberapa tujuan CLT antara lain :
- Siswa akan belajar menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan sesuatu.
- Siswa akan menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan pendapat dan penilaian.
- Siswa akan belajar mengekspresikan fungsi-fungsi yang paling sesuai untuk berkomunikasi.
CLT
menggunakan hampir setiap kegiatan yang melibatkan pembelajar dalam
suatu komunikasi yang autentik. Littlewood (1981) membedakan dua jenis
kegiatan:
- Kegiatan komunikasi fungsional
Kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan (skill) dan fungsi bahasa tertentu, tetapi tetap melibatkan komunikasi.
- Kegiatan interaksi sosial
Misalnya percakapan dan diskusi, dialog dan bermain peran (role play).
COMMUNITY LANGUAGE LEARNING
Community language learning (CLL) tumbuh dari suatu ide untuk menrapkan konsep psikoterapi dalam pengajaran bahasa. Dalam eksperimen yang dimulai tahun 1957, Charles A. Curran menerapkan konsep psikoterapi dalam bentuk konseling.
1. Prinsip Dasar CCL
Karena latar belakang pendidikan formal Curren adalah psikoterapi, dia mempararelkan konsep pengajaran bahasa sebagai personal antara seorang ahli ilmu iwa de ngan seorang pasien. Hal ini tercermin dari istilah yang dipakai “client” sebutan untuk para counselor (mahasiswa/guru). Anggapan ini didasrkan bahwa pada saat seorang terjun dalam dunia atau arena yang batru seperti proses belajar-mengajar bahasa dia dikodratidengan berbagai cirri anusia sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam lingkungan yang balru dimana dia merasa asing, dia di hinggapi oleh rasa taka man (insecurity), rasa keterancaman (threat), rasa ketidakmenentuan (anxiety), konflik dan berbagai perasaan lain yang secara tak tersadari menghalang-halangi dia untuk maju.
Landasan dasar dalam CCL, berbeda jauh dari konsep diatas, tugas utama seorang konselor adalah untukmenghilangkan, atau paling tidak mengurang segala persaan negative para klientnya. Seorang konselor dituntut untuk memiliki s,ikap yang fasilitatif, baik dalam menularka pengetahuannya dan para klien maju dalam satu tahap demi tahap.
Dalam kaitannya dengan dengan keadaan psikologi para siswa. Curran mengajukan enam konsep yang diperlukan untuk menumbuhkan “learning”. Enam konsep ini dicakup dalam satu singkatan yaitu, SARD:
- Security (rasa aman)
- Attention- aggression (perhatian –peran aktif siswa)
- Retention-reflection, dan (refleksi/intropeksi atau tes)
- Discrimination.(penjelasan).
Karena latar belakang pendidikan formal Curren adalah psikoterapi, dia mempararelkan konsep pengajaran bahasa sebagai personal antara seorang ahli ilmu iwa de ngan seorang pasien. Hal ini tercermin dari istilah yang dipakai “client” sebutan untuk para counselor (mahasiswa/guru). Anggapan ini didasrkan bahwa pada saat seorang terjun dalam dunia atau arena yang batru seperti proses belajar-mengajar bahasa dia dikodratidengan berbagai cirri anusia sebagaimana manusia pada umumnya. Dalam lingkungan yang balru dimana dia merasa asing, dia di hinggapi oleh rasa taka man (insecurity), rasa keterancaman (threat), rasa ketidakmenentuan (anxiety), konflik dan berbagai perasaan lain yang secara tak tersadari menghalang-halangi dia untuk maju.
Landasan dasar dalam CCL, berbeda jauh dari konsep diatas, tugas utama seorang konselor adalah untukmenghilangkan, atau paling tidak mengurang segala persaan negative para klientnya. Seorang konselor dituntut untuk memiliki s,ikap yang fasilitatif, baik dalam menularka pengetahuannya dan para klien maju dalam satu tahap demi tahap.
Dalam kaitannya dengan dengan keadaan psikologi para siswa. Curran mengajukan enam konsep yang diperlukan untuk menumbuhkan “learning”. Enam konsep ini dicakup dalam satu singkatan yaitu, SARD:
- Security (rasa aman)
- Attention- aggression (perhatian –peran aktif siswa)
- Retention-reflection, dan (refleksi/intropeksi atau tes)
- Discrimination.(penjelasan).
Tahap penguasaan dibagi menjadi lima bagian :
1. Embryonic stage (madasen di celce-murcia & Mcintosh, 1978:35), adalah tahap dimana ketergantungan siswa pada gurunya adalah 100 atau mendekati 100%. Pada tahap ini rasa ketidak menetuan siswa menghalang-halangi dia untuk memakai bahasa asing terutama di depan gurunya dan orang-orang lain yang dia tidak kenal. Tugas guru adalah untuk menghilangkan atau menguarangi perasaaan seperti ini dengan memberikan bimbingan dan penyuluhan yang layak. Siswa diminta supaya aktifitas yang menjadi minat mereka untuk menyebutkannya dan melakukannya. Kemudian diminta untuk merefleksikan.
2. Self-Assertion Stage, tahap dimana siswa telah mendapat dukungan moral dari rekan senasibnya taupun dari guru mereka. Dan mereka telah mencoba untuk menemukan jati diri mereka sebagai penutur bahasa asing. Pada tahap ini tentu saja bahasa yang mereka gunakan barulah dalam bentuk yang sangat sederhana yang oleh slingker disebut interlanguage, serta ungkapan-ungkpan yang mereka gunakan masih dalam bntuk elementary.
3. Birth Stage, siswa secara bertahap mulai mengurangi pemakaina bahasa ibunya. Dia mulai terbiasa memkai bahasa kedua. Pada tahap ini guru atau konselor harus bertindak bijaksana dan memperhatika segala aspek yang timbul pada tahap ini, dan harus mampu mengatasi lproblem yang dihadapi oleh siswa dengan pendekatan psikologi.
4. Pada tahap ini, siswa tidak lagi banyak diam pada waktu proses embelajaran berlangsung, mereka sudah harus aktif berbicara.
5. Pada tahap terkahir adalah “independent Stage”, tahap dimana siswa telah menguasai semua bahan yang akan dibahas, dan siswa sudah bisa memperluas bahasanya dan memelajalri ula aspek-aspek social dan budaya ada penutur asli
. Teknik Pelaksanaan Pengajaran
Karena dalanm CCL hungan antara guru dan siswa adalah hubungan terapeutik antara seorang klien dengan konselornya, maka bntuk kelas dan proses belajar-mengajar pun berbeda dengan kelas dan cara yang konvensioanl. Dalam CCl tiap kelas terdiri dari enam sampai 12 ,siswa, dan tiap siswa mempnyani seorang konselor. Pengaturan meja dankursi dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuksemacam lingkaran. Konselor berada dibe
Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu
proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks
pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki
pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel da-pat diterapkan
(ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks
lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi
dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil
pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
pembelajaran+ctl
Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang
sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran
berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual
(contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing,
applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu
mencapai kompetensi secara maksimal.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai
tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata
guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan
kontekstual.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen
utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism),
bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar
(learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya
(authentic assessment).
Langkah-langkah CTL
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja,
dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup
mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam
CTL adalah sebagai berikut:
1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna
dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan barunya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan
berbagai cara.
Karakteristik Pembelajaran CTL
1. Kerjasama.
2. Saling menunjang.
3. Menyenangkan, tidak membosankan.
4. Belajar dengan bergairah.
5. Pembelajaran terintegrasi.
6. Menggunakan berbagai sumber.
7. Siswa aktif.
8. Sharing dengan teman.
9. Siswa kritis guru kreatif.
10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa,
peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.
11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya
siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap
demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan
dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan
pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran,
lang-kah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana
pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara
umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program
pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang
akan dicapai (je-las dan operasional), sedangkan program untuk
pembelajaran kontekstual le-bih menekankan pada skenario
pembelajarannya.
Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson
(2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari
pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan
isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah
dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna
memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan
kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan
inilah inti dari CTL.
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works)
Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran
yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga
mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sisw
3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif,
mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan
kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa.
Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa
menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4. Bekerjasama (collaborating)
Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif
dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok,
membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling
berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan
berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir
kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis
dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan,
menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu
kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam
mengembangkan sesuatu.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual)
Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan
kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga
aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung
jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran
kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan
kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan
dan kemampuannya.
7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards)
Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara
optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai
keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan
kekuatannya.
8. Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment)
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi
dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan
tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar,
penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan
kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka
pelajari..... Baca Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/pengertian-pembelajaran-kontekstual-ctl.html
Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
lakang
klien/siswa, dan dapat pula dilakukan dengan pengaturan yang lain.
Dalam CCL tidak digunakan satu tesk apapun, guru dan siswa berkolaborasi
dan bebas menetuka materi apa yang akan dibahas.Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Contextual Teaching And Learning (CTL)
1)
Pengertian
Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)
Kata kontekstual (contextual)
berasal dari kata context yang berarti ”hubungan, konteks, suasana dan
keadaan (konteks) ” Adapun pengertian CTL menurut Tim Penulis Depdiknas (2003:
5) adalah sebagai berikut: Pembelajaran Konstektual adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan
melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme (contructivism),
bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning
community), pemodelan (modeling), refleksi dan penelitian sebenarnya (authentic
assessment). Sedangkan menurut Jhonson (2006: 67) yang mendefinisikan
pembelajaran kontekstual (CTL) sebagai berikut: Sistem CTL adalah sebuah proses
pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi
akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik
dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks pribadi,
sosial dan budaya mereka.
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan sebuah strategi
pembelajaran yang dianggap tepat untuk saat ini karena materi yang diajarkan
oleh guru selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan
menggunakan pembelajaran kontekstual, materi yang disajikan guru akan lebih
bermakna. Siswa akan menjadi peserta aktif dan membentuk hubungan antara
pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka.
2)
Prinsip-prinsip
dalam Pembelajaran Kontekstual
Model
pembelajaran kontekstual mengacu pada sejumlah prinsip dasar pembelajaran.
Menurut Ditjen Dikdasmen Depdiknas 2002, dalam Gafur (2003: 2) menyebutkan
bahwa kurikulum dan pembelajaran kontekstual perlu didasarkan pada prinsip-prinsip
sebagai berikut:
a)
Keterkaitan,
relevansi (relation). Proses belajar hendaknya ada keterkaitan dengan
bekal pengetahuan (prerequisite knowledge) yang telah ada pada diri
siswa.
b)
Pengalaman
langsung (experiencing). Pengalaman langsung dapat diperoleh melalui
kegiatan eksplorasi, penemuan (discovery), inventory, investigasi,
penelitian dan sebagainya. Experiencing dipandang sebagai jantung
pembelajaran kontekstual. Proses pembelajaran akan berlangsung cepat jika siswa
diberi kesempatan untuk memanipulasi peralatan, memanfaatkan sumber belajar,
dan melakukan bentuk-bentuk kegiatan penelitian yang lain secara aktif.
c)
Aplikasi (applying).
Menerapkan fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang dipelajari dalam dengan
guru, antara siswa dengan narasumber, memecahkan masalah dan mengerjakan tugas
bersama merupakan strategi pembelajaran pokok dalam pembelajaran kontekstual.
d)
Alih
pengetahuan (transferring). Pembelajaran kontekstual menekankan pada kemampuan
siswa untuk mentransfer situasi dan konteks yang lain merupakan pembelajaran
tingkat tinggi, lebih dari pada sekedar hafal.
e)
Kerja sama (cooperating).
Kerjasama dalam konteks saling tukar pikiran, mengajukan dan menjawab
pertanyaan, komunikasi interaktif antar sesama siswa, antara siswa.
f)
Pengetahuan,
keterampilan, nilai dan sikap yang telah dimiliki pada situasi lain.
Berdasarkan
uraian diatas, prinsip-prinsip tersebut merupakan bahan acuan untuk menerapkan
metode kontekstual dalam pembelajaran. Implementasi metode kontekstual lebih
mengutamakan strategi pembelajaran dari pada hasil belajar, yakni proses
pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
3)
Karakteristik
Pembelajaran Kontekstual
Menurut Johnson
dalam Nurhadi (2003 : 13), ada 8 komponen yang menjadi karakteristik dalam
pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut :
a)
Melakukan
hubungan yang bermakna (making meaningfull connection). Siswa dapat
mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam
mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapatbekerja sendiri atau
bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapatbelajar sambil berbuat (learning
by doing).
b)
Melakukan
kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa
membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam
kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masayarakat.
c)
Belajar yang
diatur sendiri (self-regulated learning). Siswa melakukan kegiatan yang
signifikan : ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya
dengan penentuan pilihan, dan ada produknya atau hasilnya yang sifatnya nyata.
d)
Bekerja sama (collaborating).
Siswa dapat bekerja sama. Guru dan siswa bekerja secara efektif dalam kelompok,
guru membantu siswa memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan
salingberkomunikasi.
e)
Berpikir kritis
dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan
tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif : dapat
menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan
menggunakan logika dan bukti-bukti.
f)
Mengasuh atau
memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara
pribadinya : mengetahui, memberi perhatian, memberi harapan-harapan yang
tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil
tanpa dukungan orang dewasa.
g)
Mencapai
standar yang tinggi (reaching high standard). Siswa mengenal dan
mencapai standar yang tinggi : mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa
untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang
disebut “excellence”.
h)
Menggunakan
penilain autentik (using authentic assessment). Siswa menggunakan
pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang
bermakna. Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah
mereka pelajari untuk dipublikasikan dalam kehidupan nyata.
4)
Komponen-Komponen
Pembelajaran Kontekstual
a) Kontruktivisme (contructivism)
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran
kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi
sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan
tidak seakan-akan. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau
kaidah yang siap diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan
itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata, karena pengetahuan tumbuh dan
berkembang melalui pengalaman nyata. Menurut Zahorik (1995: 14-22),
mengemukakan bahwa terdapat lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek
pembelajaran kontekstual, antara lain sebagai berikut:
(1)
Pengaktifan
pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge).
(2)
Pemerolehan
pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara
keseluruhan terlebih dahulu, kemudianmemperhatikan detailnya.
(3)
Pemahaman
pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun konsep
sementara (hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat
tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu, konsep tersebut
direvisi dan dikembangkan.
(4)
Mempraktekan
pengetahuan dan pengalaman tersebut (applyingknowledge).
(5)
Melakukan
refleksi (reflecting knowledge) terhadap straregi pengembangan
pengetahuan tersebut.
b) Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan berbasis CTL. Carin
dan Sund (1975) dalam Mulyasa (2005: 108) mengemukakan bahwa inqury adalah the
pricess of investigating a problem. Sedangkan Piaget mengemukakan bahwa:
Metode inquiry merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi
untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi,
ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaanpertanyaaan, dan mencari
jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang
lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik
lain.
c) Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan strategi penting dalam pembelajaran yang
berbasis CTL, karena pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari
proses bertanya. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru
untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Sedangkan
bagi siswa bertanya menunjukan ada perhatian terhadap materi yang dipelajari
dan kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran
yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang
sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum
diketahuinya.
d) Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar (learning community) ialah hasil
pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Guru dalam
pembelajaran kontekstual (CTL) selalu melaksanakan pembelajaran dalam
kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Siswa yang pandai mengajari yang
lemah, yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu, dan seterusnya. Sehingga
kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, keanggotaannya, jumlah bahkan
bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan
mendatangkan ahli ke kelas.
Pengembangan masyarakat belajar (learning community), akan
senantiasa mendorong terjadinya proses komunikasi multi arah. Masing-masing
pihak yang melakukan kegiatan belajar dapat menjadi sumber belajar. Depdiknas,
(2003: 16) Metode pembelajaran dengan tekhnik “learning community”
sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran
terwujud dalam:
(1)
Pembentukan
kelompok kecil.
(2)
Pembentukan
kelompok besar.
(3)
Mendatangkan
ahli ke kelas.
(4)
Bekerja dengan
kelas sederajat.
(5)
Bekerja
kelompok dengan kelas di atasnya.
(6)
Bekerja dengan
masyarakat.
e) Pemodelan (modeling)
Komponen CTL yang lain adalah pemodelan. Proses pembelajaran keterampilan
atau pengetahuan tertentu, perlu ada model yang bisa ditiru. Tugas guru memberi
model tentang bagaimana cara bekerja.
Guru bukan satu-satunya model dalam pembelajaran CTL. Pemodelan disini
adalah bahwa dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru oleh
para peserta didik. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar, namun
pada metode kontekstual guru bukanlah satu-satunya model, karena model dapat
juga didatangkan dari luar untuk kemudian dihadirkan di kelas
f) Refleksi (reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau
berpikir ke belakang tentang apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu.
Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan
yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.
Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang
baru diterima. Refleksi dilakukan ketika pelajaran berakhir, siswa merenung
tentang kesalahannya dalam belajar, yang baru dia ketahui setelah mendapatkan
pengetahuan baru tentang hal itu, dan kemudian ia memperbaiki kesalahannya itu.
g) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat
memberikan perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar perlu
diketahui oleh guru agar bisa mengetahui bahwa siswa mengalami proses
pembelajaran dengan benar. Gambaran proses dan kemajuan belajar siswa perlu
diketahui sepanjang proses pembelajaran. Karena itu penilaiantidak hanya
dilakukan pada akhir periode sekolah, tetapi dilakukan bersama secara
terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Menurut Jhonson (2006: 288), penilaian
autentik berfokus pada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung,
mengharuskan membangun keterkaitan dan kerjasama, menanamkan tingkat berpikir
yang lebih tinggi.
5)
Keuntungan
Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)
Adapun keuntungan
dari pendekatan CTL adalah:
a)
Pembelajaran
menjadi lebih bermakana dan riil, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting, sebab materi yang dipelajari siswa akan tertanam erat dalam
memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
b)
Pembelajaran
lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada seorang siswa,
karena metode pembalajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang
siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan
filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui “ mengalami” bukan “menghapal”.
6)
Penerapan Pendekatan
Contextual Teaching And Learning (CTL)
dalam
Pembelajaran Matematika
Penerapan pendekatan pembelajaran dipengaruhi
oleh materi yang diajarkan oleh guru. Seperti halnya CTL, materi yang diajarkan
harus dapat dikaitkan dengan dunia nyata atau benda-benda konkret sehingga
siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang diperolehnya dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
COOPERATIVE LEARNING
Cooperative
learning adalah strategi pembelajaran yang cukup berhasil pada
kelompok-kelompok kecil, di mana pada tiap kelompok tersebut terdiri
dari siswa-siswa dari berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai
kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi
pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung
jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk
membantu rekan rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai
keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya.
Semua anggota kelompok berusaha untuk saling menguntungkan sehingga semua anggota kelompok bisa:
- Merasakan keuntungan dari setiap usaha teman lainnya. (Kesuksesan Anda bermanfaat bagi saya dan keberhasilan saya bermanfaat untuk Anda.)
- Menyadari bahwa semua anggota kelompok mempunyai nasib yang sama. (Tenggelam atau mengapung kita bersama).
- Tahu bahwa prestasi seseorang ditentukan oleh orang lain dalam satu kelompok. (Kami tidak dapat melakukannya tanpa Anda.)
- Merasa bangga dan merayakan bersama ketika salah satu anggota kelompok mendapatkan keberhasilan (Kami semua merasa sukses atas kesuksesan anda.
Bagaimana keunggulan Cooperative Learning?
Penelitian telah menunjukkan bahwa model cooperative learning:
• meningkatkan aktivitas belajar siswa dan prestasi akademiknya.
• meningkatkan daya ingatan siswa
• meningkatkan kepuasan siswa dengan pengalaman belajar
• membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berkomunikasi secara lisan
• mengembangkan keterampilan social siswa
• meningkatkan rasa percaya diri siswa
• membantu meningkatkan hubungan positif antar siswa.
• meningkatkan aktivitas belajar siswa dan prestasi akademiknya.
• meningkatkan daya ingatan siswa
• meningkatkan kepuasan siswa dengan pengalaman belajar
• membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berkomunikasi secara lisan
• mengembangkan keterampilan social siswa
• meningkatkan rasa percaya diri siswa
• membantu meningkatkan hubungan positif antar siswa.
Metode
Penemuan (Inquiry-Discovery Method)
Bagian terbesar dari matematika
yang anak-anak pelajari di sekolah tidak diperoleh melalui penemuan, tetapi
diperoleh melalui pemberitahuan (dengan cara ceramah/ kuliah/ ekspositori),
bacaan, meniru, melihat, mengamati, dan semacamnya. Misalnya kebanyakan anak
mengetahui bahwa perkalian 2 bilangan bulat negatif adalah bilangan bulat
positif itu bukan dari penemuan tetapi diberitahu.
Metode penemuan adalah salah satu
metode belajar mencari dan menemukan sendiri dalam sistem belajar mengajar ini
guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak
didik diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dan menggunakan
teknik pendekatan masalah (Djamarah dan Zain, 2002:22-23).
Secara garis besar prosedurnya
sebagai berikut :
1.
Simulation
Guru
mulai bertanya dengan mengajukan persoalan/ menyuruh anak didik membaca/
mendengarkan urain yang memuat permasalahan.
2.
Problem
Statement
Anak
didik diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan. Sebagian besar
memilihnya yang dipandang paling menarik dan fleksibel untuk dipecahkan.
Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk
pertanyaan/ hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara
atas pertanyaan yang diajukan.
3.
Data
Collection
Untuk
menjawab pertanyaan/ membuktikan benar tidaknya hipotesis ini, anak didik
diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai objek, wawancara
dengan narasumber melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
4.
Data
Processing
Semua
informasi hasil bacaan, wawancara, observasi dan sebagainya semuanya diacak,
diklasifikasikan, ditabulasikan, bahkan bila perlu dengan cara tertentu serta
ditafsirkan pada tingkat keperluan tertentu.
5.
Verification
Pembuktian
berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran/ informasi yang ada pernyataan/
hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab/
tidak, apakah terbukti atau tidak.
6.
Generalization
Tahap
selanjutnya berdasarkan verifikasi anak didik belajar menarik kesimpulan/
generalisasi tertentu.
Menurut
Sudirman, dkk (1991: 168) bahwa metode penemuan adalah cara penyajian pelajaran
yang banyak melibatkan siswa dalam proses-proses mental dalam rangka
penemuannya. Selanjutnya Ruseffendi (1991:329) menjelaskan bahwa “metode
(mengajar) penemuan adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian
rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya
itu melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.”
TASK BASED LANGUAGE
Realitas
muncul dari bahasa Inggris sebagai bahasa internasional telah membawa
dengan itu bervariasi implikasi baik untuk pengembangan dan pengajaran. Yang paling penting adalah bahwa sebagian besar komunikasi dalam bahasa Inggris sekarang terjadi di antara L2 pedagogi bahasa. Memiliki
daftar linguistik yang lebih besar, para pembelajar bahasa Inggris
secara alami akan mencerminkan karakteristik kompetensi linguistik L1
mereka dan ini akan lebih baik dianggap sebagai pengalihan bahasa alami
banyak dalam kasus campur kode dan alih kode. Hal yang sama juga terjadi pada kompetensi pragmatis dan wacana. Dengan demikian konsep kompetensi memegang tempat penting dalam diskusi bahasa Inggris sebagai bahasa internasional pedagogi. Masalah
ini, mengharuskan pemeriksaan ulang dalam asumsi umum dari salah satu
yang paling sering dibahas tradisi pengajaran bahasa Inggris, yaitu
tugas berbasis pengajaran bahasa dan pembelajaran. Isu-isu yang akan dibahas adalah apa tugas yang berbasis di l sebuah uage mengajar
g, apa yang seharusnya menjadi tempat tugas dalam kurikulum, harus
tugas dipandang sebagai pusat dari silabus atau sebagai prosedur
metodologis, enam jenis tugas pembelajaran berbasis pengajaran dan
kerangka pengajaran bahasa berbasis tugas.
Tugas Berbasis di Pengajaran Bahasa
Ada banyak titik pandangan tentang definisi dan tugas. Awalnya definisi yang terlibat di e x t, karya, aktivitas sehari-hari, tanggung jawab pekerjaan, atau kegiatan umum untuk pelajar. Di
L2 pengajaran dan pembelajaran, tugas sekarang sering dipandang sebagai
hasil segmen instruksional berorientasi atau sebagai kerangka perilaku
untuk penelitian atau pembelajaran di kelas. Menurut Ellis, dikutip dalam Brown (Brown, 2007: 50) "Tugas berbasis di pengajaran bahasa di jantung pengajaran bahasa yang komunikatif". Kegiatan Tugas dari Skehan (1998), dikutip dalam Brown (Brown, 2007: 50), d rawing pada sejumlah penulis lain, yang diajukan lima karakteristik kunci tugas:
- artinya adalah yang utama;
- ada beberapa masalah komunikasi untuk memecahkan;
- ada semacam hubungan dengan sebanding kegiatan dunia nyata;
- penyelesaian tugas memiliki beberapa prioritas, dan
- penilaian tugas adalah dalam hal hasil.
Tugas
pembelajaran berbasis mengajar membuat perbedaan penting antara tugas
sasaran, dimana siswa harus mencapai di luar kelas, dan tugas pedagogis,
yang merupakan inti dari kegiatan kelas. Tugas
Target seperti fungsi bahasa yang tercantum dalam silabus
nosional-fungsional, namun mereka jauh lebih spesifik dan lebih
eksplisit terkait dengan instruksi kelas. Jika,
misalnya, "memberikan informasi pribadi" adalah fungsi komunikatif
untuk bahasa, maka tugas target yang tepat menyatakan mungkin
"memberikan informasi pribadi dalam wawancara kerja." Perhatikan bahwa
tugas menentukan konteks.
Tugas
Pedagogical termasuk salah satu dari serangkaian teknik yang dirancang
pada akhirnya untuk mengajar siswa untuk melakukan tugas target, tugas
pedagogis klimaks sebenarnya melibatkan siswa dalam beberapa bentuk
simulasi dari target itu sendiri (melalui simulasi bermain peran).
Tempat tugas berbasis belajar mengajar dalam kurikulum
Sebuah
kurikulum berbasis tugas, maka, menentukan apa yang pelajar perlu
melakukan dengan bahasa Inggris dalam hal tugas sasaran dan
menyelenggarakan serangkaian tugas pedagogis dimaksudkan untuk mencapai
tujuan tersebut. Bahkan,
sebuah fitur yang membedakan dari tugas kurikulum berbasis desakan
mereka pada kesehatan pedagogis dalam tugas-tugas pembangunan dan
sequencing. Guru
dan perencana kurikulum dihimbau untuk mempertimbangkan dimensi
komunikatif seperti tujuan, masukan dari peran guru, interaksi, guru dan
siswa, dan penilaian.
Tugas dipandang sebagai pusat dari silabus atau sebagai prosedur metodologis
Tugas berbasis pengajaran bahasa umumnya ditandai sebagai perkembangan dalam pendekatan komunikatif. Dibutuhkan
tugas didefinisikan dalam berbagai cara sebagai elemen sentral dalam
desain silabus dan pengajaran, dengan kata lain, tugas berbasis
pengajaran bahasa pendukung pandangan bahwa isi silabus mungkin
ditentukan dalam hal tugas-tugas belajar. Jadi, fokusnya adalah pada proses daripada produk. "Namun proses milik domain metodologi" (Nunan, 1989: 12), dikutip dalam Ellis (2006).
Karakteristik yang paling penting dari tugas adalah tujuan komunikatif di mana fokusnya adalah pada makna dan bentuk. Pendekatan Komunikatif yang berarti pendekatan. Pengajaran Bahasa Komunikatif sendiri melibatkan berbagai jenis pendekatan. Ada fungsional, analisis kebutuhan nosional dan tugas berbasis. Kemudian, berbasis tugas didefinisikan sebagai prosedural oleh Prabhu (1984), sebagai proses Breen & Candlin (1987) andas tugas bahasa berbasis mengajar diri dengan Long, Crookes, Nunan (1989), dikutip dalam Nunan (2004) Namun, beberapa researche r s, seperti Estaire dan Zanon (1994: 13-20)., dikutip dalam Ellis (2006) membedakan ed antara
dua kategori utama tugas, "tugas komunikasi," di mana perhatian pelajar
difokuskan pada makna daripada bentuk, dan "memungkinkan tugas," di
mana fokus utama adalah pada aspek linguistik (tata bahasa, kosakata,
pengucapan, fungsi, dan wacana).
Enam jenis tugas pembelajaran berbasis pengajaran
- Daftar (hasil: Daftar selesai atau rancangan peta pikiran).
- Pemesanan dan pemilahan (hasil: set informasi memerintahkan dan diurutkan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan).
- Membandingkan (hasil: bisa item tepat cocok atau dirakit, atau identifikasi persamaan dan / atau perbedaan).
- Pemecahan masalah (hasil: solusi untuk masalah ini, yang kemudian dapat dievaluasi).
- Berbagi pengalaman pribadi (hasil: sebagian besar sosial).
- Tugas kreatif (hasil: produk akhir yang dapat dihargai oleh khalayak yang lebih luas).
Tugas Kerangka pengajaran bahasa berbasis
Tahap
|
Contoh pilihan
|
A. Pra-Tugas
|
|
B. Selama Tugas
|
|
C. Pasca Tugas
|
|
Tahap
pertama adalah "pre-tugas" dan menyangkut berbagai kegiatan yang guru
dan siswa dapat melakukan sebelum mereka memulai tugas, seperti apakah
siswa diberi waktu untuk merencanakan kinerja tugas. Tahap kedua, es "selama tugas" fase, cent r sekitar
tugas itu sendiri dan memberikan berbagai pilihan instruksional,
termasuk apakah mahasiswa diwajibkan untuk beroperasi di bawah tekanan
waktu atau tidak. Tahap terakhir adalah "pasca-tugas" dan melibatkan prosedur berikut-up pada kinerja tugas. Hanya "selama tugas" fase adalah wajib dalam pengajaran berbasis tugas. Dengan demikian, minimal, pelajaran berbasis tugas terdiri dari mahasiswa hanya melakukan tugas. Opsi
yang dipilih dari "pra-tugas" atau "pasca-tugas" fase non-wajib tetapi,
seperti akan kita lihat, dapat melayani peran penting untuk memastikan
bahwa kinerja tugas secara maksimal efektif untuk pengembangan bahasa.
TOTAL PHYSHICAL REDPONSE
1.Pengertian Metode TPR (Total Physical Response)
Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan:
“a language teaching method built around the coordination of speech and action; it attempts to teach language through physical (motor) activity”.
Jadi metode TPR (Total Physical Response) merupakan suatu metode pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor).
Sedangkan menurut Larsen dan Diane dalam Technique and Principles in Language Teaching, TPR atau disebut juga ”the comprehension approach” atau pendekatan pemahaman yaitu suatu metode pendekatan bahasa asing dengan instruksi atau perintah.
Metode ini dikembangkan oleh seorang professor psikologi di Universitas San Jose California yang bernama Prof. Dr. James J. Asher yang telah sukses dalam pengembangan metode ini pada pembelajaran bahasa asing pada anak-anak. Ia berpendapat bahwa pengucapan langsung pada anak atau siswa mengandung suatu perintah, dan selanjutnya anak atau siswa akan merespon kepada fisiknya sebelum mereka memulai untuk menghasilkan respon verbal atau ucapan.
Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan permainan sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi.
Guru atau instruktur memiliki peran aktif dan langsung dalam menerapkan metode TPR ini. Menurut Asher ”The instructor is the director of a stage play in which the students are the actors”, yang berarti bahwa guru (instruktur) adalah sutradara dalam pertunjukan cerita dan di dalamnya siswa sebagai pelaku atau pemerannya. Guru yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari, siapa yang memerankan dan menampilkan materi pelajaran.
Siswa dalam TPR mempunyai peran utama sebagai pendengar dan pelaku. Siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan merespon secara fisik pada perintah yang diberikan guru baik secara individu maupun kelompok.
2.Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).
Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain:
a.Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ), merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
b.Dialog atau percakapan (conversational dialogue).
c.Bermain peran (Role Play), dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah, restoran, pasar, dll.
d.Presentasi dengan OHP atau LCD
e.Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya.
3.Teori pembelajaran TPR
Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog, misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu:
1.Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua.
2.Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan.
3.Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik.
Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan:
“a language teaching method built around the coordination of speech and action; it attempts to teach language through physical (motor) activity”.
Jadi metode TPR (Total Physical Response) merupakan suatu metode pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor).
Sedangkan menurut Larsen dan Diane dalam Technique and Principles in Language Teaching, TPR atau disebut juga ”the comprehension approach” atau pendekatan pemahaman yaitu suatu metode pendekatan bahasa asing dengan instruksi atau perintah.
Metode ini dikembangkan oleh seorang professor psikologi di Universitas San Jose California yang bernama Prof. Dr. James J. Asher yang telah sukses dalam pengembangan metode ini pada pembelajaran bahasa asing pada anak-anak. Ia berpendapat bahwa pengucapan langsung pada anak atau siswa mengandung suatu perintah, dan selanjutnya anak atau siswa akan merespon kepada fisiknya sebelum mereka memulai untuk menghasilkan respon verbal atau ucapan.
Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan permainan sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi.
Guru atau instruktur memiliki peran aktif dan langsung dalam menerapkan metode TPR ini. Menurut Asher ”The instructor is the director of a stage play in which the students are the actors”, yang berarti bahwa guru (instruktur) adalah sutradara dalam pertunjukan cerita dan di dalamnya siswa sebagai pelaku atau pemerannya. Guru yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari, siapa yang memerankan dan menampilkan materi pelajaran.
Siswa dalam TPR mempunyai peran utama sebagai pendengar dan pelaku. Siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan merespon secara fisik pada perintah yang diberikan guru baik secara individu maupun kelompok.
2.Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).
Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain:
a.Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ), merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
b.Dialog atau percakapan (conversational dialogue).
c.Bermain peran (Role Play), dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah, restoran, pasar, dll.
d.Presentasi dengan OHP atau LCD
e.Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya.
3.Teori pembelajaran TPR
Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog, misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu:
1.Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua.
2.Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan.
3.Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik.
PROJECT BASED LEARNING
Project Based Learning atau dengan
akronim PBL adalah pemanfaatan proyek dalam proses belajar mengajar,
dengan tujuan memperdalam pembelajaran, di mana siswa menggunakan
pertanyaan-pertanyaan investigatif dan juga teknologi yang relevan
dengan hidup mereka. Proyek-proyek ini juga berfungsi sebagai bahan
menguji dan menilai kompetensi siswa pada mata pelajaran tertentu, bukan
dengan menggunakan ujian tertulis konvensional.
Dalam PBL, siswa mengembangkan sendiri investigasi mereka bersama rekan kelompok maupun secara individual, sehingga siswa secara otomatis akan mengembangkan pula kemampuan riset mereka. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pendefinisian masalah, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan aktivitas investigatif lainnya. Mereka didorong untuk memunculkan ide-ide serta solusi realistis.
Secara umum, karakteristik PBL adalah sebagai berikut:
- Siswa mengambil keputusan sendiri dalam kerangka kerja yang telah ditentukan bersama sebelumnya.
- Siswa berusaha memecahkan sebuah masalah atau tantangan yang tidak memiliki satu jawaban pasti.
- Siswa ikut merancang proses yang akan ditempuh dalam mencari solusi.
- Siswa didorong untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, serta mencoba berbagai macam bentuk komunikasi.
- Siswa bertanggung jawab mencari dan mengelola sendiri informasi yang mereka kumpulkan.
- Pakar-pakar dalam bidang yang berkaitan dengan proyek yang dijalankan sering diundang menjadi guru tamu dalam sesi-sesi tertentu untuk memberi pencerahan bagi siswa.
- Evaluasi dilakukan secara terus menerus selama proyek berlangsung.
- Siswa secara reguler merefleksikan dan merenungi apa yang telah mereka lakukan, baik proses maupun hasilnya.
- Produk akhir dari proyek (belum tentu berupa material, tapi bisa berupa presentasi, drama, dll) dipresentasikan di depan umum (maksudnya, tidak hanya pada gurunya, namun bisa juga pada dewan guru, orang tua, dll) dan dievaluasi kualitasnya.
- Di dalam kelas dikembangkan suasana penuh toleransi terhadap kesalahan dan perubahan, serta mendorong bermunculannya umpan balik serta revisi.
Silent way Method
Silent way Method
Silent way adalah metode
pengajaran bahasa yang dikembangkan oleh Caleb Gattegno.Gategno terkenal dengan
minatnya terhadap tongkat kayu yang berwarna yang disebut dengan batang
Cuisenaire dan rangkaian kata-kata yang berseri dan berwarna.Merupakan suatu
pendekatan terhadap pengajaran membaca awal dimana suara dilambangkan dengan
kode tertentu.Olehkarena itu dapat kita simpulkan bahwa guru harus sebanyak
mungkin diam di kelas sedangkan siswa dimotivasi agar dapat berbicara sebanyak
mungkin.Elemen dari silent way, khususnya dalam penggunaan kartu berwarna dan
grafik batang Cuisenaire berwarna, hal ini sebelumnya merupakan inspirasi dari
Gattegno sebagai perancang pendidikan membaca dan matematika.
Hipotesis menurut Gattegno
tentang belajar sebagai berikut:
1.
Belajar merupakan
fasilitas yang diberikan kepada siswa agar siswa dapat menemukan sendiri dari
mengingat dan mengulangi apa yang sudah dipelajari.
2.
Belajar merupakan
fasilitas yang diberikan oleh objek fisik.
3.
Belajar merupakan
fasilitas dalam yang diberikan untuk memecahkan masalah terhadap apa yang
dipelajari.
Desain
Tujuan umum silent
way untuk membentuk pembelajaran bahasa agar lancer dalam belajar bahasa asli
sama dengan bahasa target, pengucapann yang benar, serta penekanan dalam
menguasai unsur-unsur prosodi bahasa sasaran.Sedangkan tujuan khusus yakni
untuk menyediakan siswa pengetahuan praktis tentang dasar-dasar tata
bahasa.Agar terbentuk siswa yang belajar secara mandiri.Gattegno membahas
tentang kursus bahasa pada tingkat SD.Yakni bertujuan agar siswa harus dapat
menjawab pertanyaan tentang diri mereka sendiri, pendidikan mereka, keluarga
mereka, peristiwa yang terjadi sehari-hari dengan pengucapan tekanan suara yang
baik baik dengan cara lisan maupun
tertulis.
Silabus
Pada dasarnya silent way mengadopsi
silabus berbentuk dasar-dasar struktur , dengan pelajaran masalah sekitar tata
bahasa dan kosa kata.Gattegno tidak memberikan secara rinci tentang leksikal
dan gramatikal.Tidak ada silabus silent way secara umum.Tetapi dari hasil
pengamatan program silen\t way yang dikembangkan oleh Peace Corp dalam
mengajarkan berbagai bahasa pada tingkat dasar.Oleh karena itu bahasa sesuai
kompliksitas gramatikal mereka, lalu menghubungkan dengan apa yang diajarkan
sebelumnya, dan materi pelajaran yang lebih mudah bias ditampilkan dengan cara
visual.Biasanya imperative merupakan struktur yang pertama diajarkan karena
kata kerjanya mudah diajarkan dengan silent way.Materi pelajaran tentang angka
diajarkan di awal kursus, karena angka-angka sangat diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari serta mudah untuk didemontrasikan.Preposisi juga diajarkan di awal
silabus dengan alasan yang sama.Selain preposisi, angka, kata ganti, kata
bilangan, kata-kata perbandingan juga diajarkan diawal kursus.
Bentuk kegiatan
belajar dan mengajar.
Kegiatan belajar mengajar dalam
silent way memiliki fungsi untuk mendorong respon siswa secara oral tanpa
intruksi langsung dari guru.Metode dasarnya adalah belajar bahasa secara
sederhana yang mana guru memberi contoh kata, frase, atau kalimat selanjunya
siswa meresponnya.Kartu dan benda lainnya dapat digunakan untuk memperoleh
respon siswa.Guru memberi respon dalam bentuk perintah, pertanyaan, isyarat
visual yang merupakan dasar kegiatan kelas.
Peran siswa
Gattegno melihat pembelajar bahasa
merupakan proses pertumbuhan pribadi yang tumbuh dari diri siswa secara sadar
dan dijadikan tantangan bagi mereka.Siswa dapat mengembangkan kepribadian,
otonomi dan tanggungjawab.Siswa harus sadar bahwa keahlian yang didapatkan
mereka tergantung pada diri sendiri, dan harus menyadari bahwa menggunakan
bahasa berguna untuk mempelajari bahasa baru.
Peran Guru
Teacher Silence mungkin menjadi hal
yang jarang terjadi, bagi kebanyakan guru bahasa hal ini dilatih secara
tradisional yang menuntut segala aspek silent way.Gattegno mengatakan bahwa
guru itu “mengajar untuk belajar” bukan berarti peran guru dalam silent way
tidak kritis.Gattegno mengantisipasi bahwa dengan menggunakan silent way dapat
mengubah persepsi guru tentang mereka.
Stevick mendefinisikan tugas guru
dalam silent way sebagai berikut:
a.
Untuk mengajar
b.
Untuk menguji
c.
Untuk mendapatkan
jalan keluar.
Meskipun
hal ini tidak tercapai dalam suatu alternative praktik mengajar.Dengan mengajar
biasanya menggunakan praktik non verbal dalam penyajian materi untuk
mendapatkan pemaknaaan.Guru melakukan evaluasi dengan segera dan dilakukan
secara diam-diam dalam memantau peserta didiknya satu sama lainnya bahkan
meninggalkan ruang pada waktu siswa sedang belajar bahasa.
Peran
bahan ajar
Silent way juga dikenal karena sifat
unik sebagai bahan ajar untuk guru melakukan silent.Bahan ajar yaitu berbentuk
satu set balok berwarna, kode-kode, grafik kosa kata, pointer yang semuanya
digunakan untuk menggambarkan hubungan antara bunyi dan arti dalam bahasa
target.Kelas sering kali menggunakan grafik dalam bahasa asli dan kode warna
secara alamiah selanjutnya siswa memasang warna dengan suara yang terkait.Guru
menggunakan pointer untuk menunjukkan kepada siswa tentang symbol suara yang
dihasilkan.
Suggestopedia
Dalam mempelajari bahasa Jepang ada banyak metode dan cara pengajaran. salah satunya adalah Suggestopedia, dalam metode ini bukan hanya keadaan pembelajar yang harus diperhatikan namun, keadaan lingkungan sekitar juga dapat berpengaruh.Belajar merupakan masalah sikap bukan bakat (Lazanov Georgi). Suggestopedia adalah metode yang didasarkan pada pemahaman yang modern bagaimana otak manusia bekerja dan bagaimana kita akan belajar paling efektif. metode ini dikembangkan oleh Doktor psychotherapist dari Bulgaria Georgi Lazanov. Suggestopedia pada awalnya diterapkan terutama dalam pengajaran bahasa asing dan sering mengklaim bahwa SP dapat mengajar bahasa sekitar tiga kali lebih cepat dari metode konvensional.
- Definisi Suggestopedia
Selanjutnya, Lazanov untuk membuktikan secara nyata keefektifan sugesti terhadap ingatan berdasarkan hasil penelitian dalam bidang kedokteran, dia memulai percobaan mengingat arti kata bahasa asing. Pada prosesnya 「催眠学習」percepatan ingatan, bukan hanya pada hipnosis/hipnotis/bawah sadar, sebenarnya menjadi lebih baik karena sebelum hipnosis diberikan, telah di sugesti terlebih dahulu. Seiring proses penelitian hipnosis dan percobaan ini, maka 「暗示学」ini, landasan teori pengajaran SP, berbeda dari metode pengajaran lain, hal yang utama terletak pada mekanisme ingatan dalam pengobatan ilmu saraf, fisiologi (ilmu faal) otak besar (fisiologi cabang biologi yg berkaitan dengan fungsi dan kegiatan kehidupan atau zat hidup (organ, jaringan, atau sel), dan SP ini pertama kali merupakan bidang kedokteran yang berlandaskan pada teori sugesti.
Hasil penelitian Lazanov, semenjak dipresentasikan di Unesco pada Tahun 1978, mulai dipergunakan untuk bimbingan berbagai bidang pengajaran bahasa asing, mulai dari negara-negara Eropa timur sampai kesetiap negara dan masih dipergunakan sampai sekarang (Osamu, 1990 : 50).
Beberapa tombol elemen SP termasuk kaya akan indera lingkungan belajar (gambar, warna, musik, dll), ekspektasi positif dari keberhasilan dan penggunaan berbagai-bagai metode: dramatis teks, musik, partisipasi aktif dalam lagu dan permainan. SP mengadopsi sebuah pendekatan terstruktur dengan hati-hati menggunakan tiga tahap utama sebagai berikut:
- Persiapan
- Musik Klasik
- Praktek
Selanjutnya akan diperkenalkan konsep SP sebagai metode pengajaran bahasa asing.
2. Teori pembelajaran
SP adalah teori belajar yang memungkinkan pembelajar memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dengan waktu yang singkat, efektifitas membebaskan kemampuan potensial (proses melepaskan sugesti), memberikan rangsangan terhadap imformasi positif sedapat mungkin dalam proses pembelajarannya (Osamu, 1996 : 106). berikut prinsip dan cara pembelajaran SP.
- Tiga Prinsip SP
Untuk dapat belajar rileks secara mental pembelajar dibuat untuk membebaskan diri dari lingkungan, menghindari faktor utama yang negatif seperti kepanikan, kegelisahan, tegang, dari proses pembelajaran dan lingkungan belajar. Pada situasi seperti ini, pembelajar dapat berkosentrasi pada ingatan intelektual dan kreatifitasnya, keadaan ini baik dalam pemrolehan pembelajaran karena bekerja sesuai dengan cara kerja alami otak manusia.
2) 「menyatukan perasaan bawah sadar dan perasaan sadar dan merangsang penggabungan otak besar」
Dalam proses pembelajaran ini, pembelajar bukan hanya melakukan aktifitas secara sadar namun juga fungsi atau reaksi perasaan bawah sadarnya di aktifkan. Aktifitas pembelajaran dilaksanakan untuk mendorong mempercepat pemrolehan pengetahuan dan koknitif pembelajar.
3) 「aktifitas sugesti yang terhubung dengan level kemampuan bawah sadar」
Untuk melakukan aktifitas melepaskan kemampuan potensial, pada prosesnya, level kemampuan potensial tidak perlu digali terus-menerus oleh pembelajar, efektifnya perlu untuk melakukan aktifitas yang terhubung dengan sugesti.
- Tiga Tahap dalam SP
Pengajar menjaga suasana belajar agar dapat bekerja secara efektif dalam sugesti, proses pembelajaran, pencapaian aktifitas, membebaskan kemampuan potensial pembelajar. Untuk itu, pengajar perlu mengenakan kemampuan menggunakan secara terstruktur perasaan bawah sadar dan perasaan sadar, penguasaan proses berfikir dan persepsi perasaan bawah sadar. sehingga pembelajar, mendapat pengalaman (belajar yang menyenangkan).
2) Tahap Pengajar
Pengajar membentuk dan menyatukan secara keseluruhan faktor-faktor dalam pengajaran, menyesuaikan bahan ajar dan pembelajar. selanjutnya pembelajar, perlu untuk selalu dibimbing dalam aktifitas pencarian arti yang terstruktur, sambil mengingat hal yang dilakukan, proses menganalisis dan aktifitas penyatuan dalam waktu yang bersamaan, selalu menyerap sebagian atau keseluruhan.
3) Tahap Kesenian
Yang dimaksud dengan rasa seni disini (musik, lukisan/gambar, dan drama dan lain-lain) adalah memberikan secara berlimpah informasi tentang sekitar perasaan yang hormonis dari perasaan bawah sadar pembelajar. Bagian seni ini bukan hanya digunakan sebagai tambahan, namun juga dimasukkan kedalam proses pembelajaran.
Dari tiga prinsip dan tiga tahap dalam SP, keefektifan pembelajar sangat diharapkan, pada saat menyatukan dan mengorganisis prinsip dan tahapan tersebut, nantinya keefektifan sugesti pembelajar dapat bekerja sesuai dengan cara-cara berikut ini:
Pada prakteknya, yaitu:
- Otoritas.
- Sifat kanak-kanak
- Double Planeness
- Intonasi
- Ritem
- Pseudo Passivity
Berikut merupakan simbol atau fitur dari SP, yaitu:
- Sedapat mungkin belajar difasilitasi dengan lingkungan yang nyaman, tempat duduk yang enak, dan pencahayaan yang cukup.
- Belajar digalakkan melalui kehadiran dekorasi dan memiliki target bahasa dan berbagai informasi gramatikal.
- Guru mempunyai peran atau otoritas penuh dalam kelas.
- Siswa diperhadapkan/dianjurkan seperti anak-anak yang sedang melakukan perjalanan mental dengan guru dan menganggapnya sebagai sesuatu yang baru.
PROBLEM BASED LEARNING
Model Problem Based Learning adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (menurut Arends dalam Abbas, 2000:13).
Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan ketrampilan berfikir kritis dan pemecahan masalah serta mendapatkan pengetahuan konsep- konsep penting, dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai ketrampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berbasis masalah penggunaannya di dalam tingkat berfikir yang lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar.
Problem Based Learning atau Pembelajaran berbasis masalah meliputi pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama dan menghasilkan karya serta peragaan. Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya pada siswa. Pembelajaran berbasis masalah antara lain bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan
ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah (Ibrahim 2002 : 5).
Dalam pembelajaran berbasis masalah, perhatian pembelajaran tidak hanya pada perolehan pengetahuan deklaratif, tetapi juga perolehan pengetahuan prosedural. Oleh karena itu penilaian tidak hanya cukup dengan tes. Penilaian dan evaluasi yang sesuai dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan oleh siswa sebagai hasil pekerjaan mereka dan mendiskusikan hasil pekerjaan secara bersama-sama. Penilaian proses dapat digunakan untuk menilai pekerjaan siswa tersebut, penilaian ini antara lain 7
1. asesmen kerja, asesmen autentik dan portofolio. Penilaian proses bertujuan agar guru dapat melihat bagaimana siswa merencanakan pemecahan masalah, melihat bagaimana siswa menunjukkan pengetahuan dan ketrampilannya. Airasian dalam Diah Eko Nuryenti (2002) menyatakan bahwa penilaian kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan dalam situasi yang sebenarnya. Sebagian masalah dalam kehidupan nyata bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks atau lingkungannya, maka disamping pengembangan kurikulum juga perlu dikembangkan model pembelajaran yang sesuai tujuan kurikulum yang memungkinkan siswa dapat secara aktif mengembangkan kerangka berfikir dalam memecahkan masalah serta kemampuannya untuk bagaimana belajar (learning how to learn). Dengan kemampuan atau kecakapan tersebut diharapkan siswa akan mudah beradaptasi. Dasar pemikiran pengembangan strategi pembelajaran tersebut sesuai dengan pandangan kontruktivis yang menekankan kebutuhan siswa untuk menyelidiki lingkungannya dan membangun pengetahuan secara pribadi pengetahuan bermakna (Ibrahim, 2000:19).
Ketika siswa masuk kelas mereka tidak dalam keadaan kosong, melainkan mereka telah memiliki pengetahuan awal.
Berdasarkan pemikiran tersebut maka pembelajaran Pekerjaan Dasar Konstruksi Bangunan perlu diawali dengan mengangkat permasalahan yang sesuai dengan lingkungannya (permasalahan kontekstual). Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13), pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut.
Berdasarkan pemikiran tersebut maka pembelajaran Pekerjaan Dasar Konstruksi Bangunan perlu diawali dengan mengangkat permasalahan yang sesuai dengan lingkungannya (permasalahan kontekstual). Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13), pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut.
a. Autentik, yaitu
masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari pada
berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu.
b. Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.
c. Mudah dipahami, yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. 8
d. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
e. Bermanfaat, yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
b. Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.
c. Mudah dipahami, yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. 8
d. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
e. Bermanfaat, yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
Pengajaran
berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu
dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau
mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu
dapat berupa transkip debat, laporan, model fisik, video atau program
komputer (Ibrahim & Nur, 2000:5-7 dalam Nurhadi, 2003:56) Pengajaran
berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama satu sama
lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir.
lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir.
Menurut Lepinski (2005) tahap-tahap pemecahan masalah sebagai berikut
ini, yaitu: 1) penyampaian ide (ideas), 2) penyajian fakta yang
diketahui (known facts), 3) mempelajari masalah (learning issues), 4)
menyusun rencana tindakan, (action plan) dan 5) evaluasi (evaluation).
Tahap 1: Penyampaian Ide (Ideas)
Pada tahap ini dilakukan secara curah pendapat (brainstorming). Pebelajar merekam semua daftar masalah (gagasan,ide) yang akan dipecahkan. Mereka kemudian diajak untuk melakukan penelaahan terhadap ide-ide yang
dikemukakan atau mengkaji pentingnya relevansi ide berkenaan dengan masalah yang akan dipecahkan (masalah actual, atau masalah yang relevan dengan 9 kurikulum), dan menentukan validitas masalah untuk melakukan proses kerja melalui masalah.
Tahap 2: Penyajian Fakta yang Diketahui (Known Facts)
Pada tahap ini dilakukan secara curah pendapat (brainstorming). Pebelajar merekam semua daftar masalah (gagasan,ide) yang akan dipecahkan. Mereka kemudian diajak untuk melakukan penelaahan terhadap ide-ide yang
dikemukakan atau mengkaji pentingnya relevansi ide berkenaan dengan masalah yang akan dipecahkan (masalah actual, atau masalah yang relevan dengan 9 kurikulum), dan menentukan validitas masalah untuk melakukan proses kerja melalui masalah.
Tahap 2: Penyajian Fakta yang Diketahui (Known Facts)
Pada tahap ini, mereka
diajak mendata sejumlah fakta pendukung sesuai dengan masalah yang
telah diajukan. Tahap ini membantu mengklarifikasi kesulitan yang
diangkat dalam masalah. Tahap ini mungkin juga mencakup pengetahuan yang
telah dimiliki oleh mereka berkenaan dengan isu-isu khusus, misalnya
pelanggaran kode etik, teknik pemecahan konflik, dan sebagainya.
Tahap 3: Mempelajari Masalah ( Learning Issues)
Pebelajar diajak menjawab pertanyaan tentang, “Apa yang perlu kita ketahui untuk memecahkan masalah yang kita hadapi?” Setelah melakukan diskusi dan konsultasi, mereka melakukan penelaahan atau penelitian dan mengumpulkan informasi. Pebelajar melihat kembali ide-ide awal untuk menentukan mana yang masih dapat dipakai. Seringkali, pada saat para pebelajar menyampaikan masalah-masalah, mereka menemukan cara-cara baru untuk
memecahkan masalah. Dengan demikian, hal ini dapat menjadi sebuah proses atau tindakan untuk mengeliminasi ide-ide yang tidak dapat dipecahkan atau sebaliknya ide-ide yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah.
Tahap 4: Menyusun Rencana Tindakan (Action Plan)
Pada tahap ini, pebelajar diajak mengembangkan sebuah rencana tindakan yang didasarkan atas hasil temuan mereka. Rencana tindakan ini berupa sesuatu (rencana) apa yang mereka akan lakukan atau berupa suatu rekomendasi saran-
saran untuk memecahkan masalah.
Tahap 5: Evaluasi
Tahap evaluasi ini terdiri atas tiga hal: 1) bagaimana pebelajar dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses, 2) bagai-mana mereka menerapkan tahapan PBM untuk bekerja melalui masalah, dan 3) bagaimana pebelajar akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahakan masalah atau sebagai bentuk pertanggung jawaban mereka.
belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam, misalnya secara lisan atau verbal, laporan 10
tertulis, atau sebagai suatu bentuk penyajian formal lainnya.
Evaluator menilai penguasaan bahan-bahan kajian pada tahap tersebut
melalui pebelajar. Sebagian dari evaluasi memfokuskan pada pemecahan
masalah oleh pebelajar maupun dengan cara melakukan proses belajar
kolaborasi (bekerja bersama pihak lain). Suatu alat untuk menilai hasil
dapat dipakai sebuah rubrik. Rubrik dipakai sebagai suatu alat
pengukuran untuk menilai berdasarkan beberapa kategori, misalnya: 1)
batas waktu, 2) organisasi tugas (proyek), 3) segi (kebakuan) bahasa, 4)
kemampuan analisis, telaah, 5) kemampuan mencari sumber pendukung
(penelitian, termasuk kajian literatur), 6) kreativitas (uraian dan
penalaran), dan 7) bentuk penampilan penyajian.Tahap 3: Mempelajari Masalah ( Learning Issues)
Pebelajar diajak menjawab pertanyaan tentang, “Apa yang perlu kita ketahui untuk memecahkan masalah yang kita hadapi?” Setelah melakukan diskusi dan konsultasi, mereka melakukan penelaahan atau penelitian dan mengumpulkan informasi. Pebelajar melihat kembali ide-ide awal untuk menentukan mana yang masih dapat dipakai. Seringkali, pada saat para pebelajar menyampaikan masalah-masalah, mereka menemukan cara-cara baru untuk
memecahkan masalah. Dengan demikian, hal ini dapat menjadi sebuah proses atau tindakan untuk mengeliminasi ide-ide yang tidak dapat dipecahkan atau sebaliknya ide-ide yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah.
Tahap 4: Menyusun Rencana Tindakan (Action Plan)
Pada tahap ini, pebelajar diajak mengembangkan sebuah rencana tindakan yang didasarkan atas hasil temuan mereka. Rencana tindakan ini berupa sesuatu (rencana) apa yang mereka akan lakukan atau berupa suatu rekomendasi saran-
saran untuk memecahkan masalah.
Tahap 5: Evaluasi
Tahap evaluasi ini terdiri atas tiga hal: 1) bagaimana pebelajar dan evaluator menilai produk (hasil akhir) proses, 2) bagai-mana mereka menerapkan tahapan PBM untuk bekerja melalui masalah, dan 3) bagaimana pebelajar akan menyampaikan pengetahuan hasil pemecahakan masalah atau sebagai bentuk pertanggung jawaban mereka.
belajar menyampaikan hasil-hasil penilaian atau respon-respon mereka dalam berbagai bentuk yang beragam, misalnya secara lisan atau verbal, laporan 10
Pengertian dan Sejarah NLP
NLP
(Neuro-Linguistics Programming) telah menjadi sebuah teknologi pikiran
yang paling populer dan digunakan oleh banyak pihak didunia. Beberapa
praktisi seperti trainer, artis, motivator, terapis,pebisnis, psikolog,
olahragawan bahkan politisi menggunakan NLP.
NLP disebutkan sebagai buku
petunjuk penggunaan otak (The Manual of Brain). Karena NLP memang
mempelajari bagaimana otak bekerja.
- Neuro merujuk pada otak / pikiran, bagaimana kita mengorganisasikan kehidupan mental kita.
- Linguistic adalah mengenai bahasa, bagaimana kita menggunakan bahasa untuk mencipta makna dan pengaruhnya pada pikiran dan kehidupan kita.
- Programming adalah mengenai urutan proses mental yang berpengaruh atas perilaku dalam mencapai tujuan tertentu, dan bagaimana melakukan modifikasi atas proses mental itu.
Jadi NLP adalah suatu model
keunggulan manusia. Berisi suatu set teknik-teknik canggih dan attitude
untuk menggunakan keseluruhan dari sumber daya pikiran, mental, dan
fisik. NLP memberikan kemampuan Anda untuk mengubah, mengadopsi, atau
menghapuskan perilaku-perilaku sesuai keinginan Anda, dan memberikan
kemampuan untuk memilih sendiri kondisi mental, emosional, dan kondisi
fisik.
Sejarah terciptanya NLP dimulai
ketika seorang mahasiswa Computer programming/mathematics, Dr. Richard
Bandler dan Ahli Linguistik, John Grinder, memiliki sebuah pertanyaan
“Apa perbedaan yang membedakan orang-orang unggul dengan orang yang
lainnya?”. Maka dimulailah sejarah petualangan mereka mempelajari
keahlian seorang pakar dan terapis yang teramat sukses di bidangnya.
Metode yang mereka gunakan untuk mempelajari keahlian ini disebut
modeling (Ilmu Memodel).
Tokoh-tokoh awal yang dimodel
adalah : Fritz Perls (Gestalt Psychotherapist), Virginia Satir (Family
Therapist), Gregory Bateson (Anthropologist, cybernetics) dan Milton
Erickson (Hypnotherapist).
Inti dari NLP adalah modeling.
Modeling dalam NLP memungkinkan untuk mempelajari dan menduplikasi
keahlian seseorang. Aplikasi modeling ini sungguh tak terbatas, nyaris
bisa dikatakan : "Bila ada seseorang pernah melakukan sesuatu hal, maka
dengan modeling kita juga dapat menduplikasi agar bisa melakukannya
juga". Melalui NLP kita bisa melakukan suatu perilaku unggul manusia
dan memetakannya dalam suatu pola-pola inti tertentu.
MODEL PEMBELAJARAN THE NATURAL APPROACH
MODEL PEMBELAJARAN THE NATURAL APPROACH
A. Orientasi
Model
Model
pembelajaran The Natural
Approach ini dirintis
pada tahun 1976 dengan nama Natural Approach, dan diperkenalkan pada
tahun 1977 oleh Tracy D. Terrell seorang
linguis dan guru bahasa Spanyol di California University. Pada dasarnya metode
ini lahir sebagai sebuah upaya untuk
mengembangkan pengajaran bahasa Spanyol dengan menerapkan
prinsip-prinsip Naturalistic yang ada dalam pemerolehan bahasa kedua.
Akan tetapi metode ini kemudian berkembang tidak hanya dalam pengajaran bahasa
Spanyol tetapi juga dalam bahasa lain mulai dari tingkat dasar sampai tingkat
lanjut.
Istilah alamiah Natural dalam metode
ini didasarkan pada suatu pandangan bahwa penguasaan suatu bahasa lebih banyak
bertumpu pada pemerolehan bahasa. Sehingga di dalam konteks alamiah, apabila
dibandingkan dengan pembelajaran aturan-aturan yang secara sadar dipelajari
satu persatu. Karena metode ini memfokuskan diri pada makna
komunikasi-komunikasai sejati, dibandingkan pada ketepatan bentuk
ucapan-ucapan.
Model
pembelajaran alamiah ini
merupakan sebuah model sekaligus metode pengajaran bahasa yang memberikan
penekanan pada aspek pemahaman siswa serta aspek komunikasi yang bermakna.
Metode ini didasarkan pada teori yang memandang bahasa sebagai alat untuk berkomunikasai,
menyampaikan maksud atau makna dan alat ntuk menyampaikan pesan. Metode ini
dapat dijelaskan melalui lima hipotesis tentang pembelajaran bahasa, yaitu
hipotesis pemerolehan dan pembelajaran bahasa, hipotesis urutan alamiah,
hipotesis monitor, hipotesis input, dan hipotesis saringan sikap.
B. Model Pembelajaran
1. Sintaksis
Metode alamiah muncul dengan maksud
mengembangkan kemampuan dasar dalam berkomunikasi. Langkah-langkah pembelajaran
The Natural approach adalah sebagai
berikut.
a) Apersepsi
Pada
tahap ini, siswa mengungkapkan pengetahuaanya tentang lafal, nada, tekanan, dan
intonasi pada sebuah puisi.
b)
Eksplorasi
Pada
tahap ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada peserta didik apa yang
harus dicapai.
c)
Elabolasi
Pada tahap elaborasi, siswa akan mendapatkan contoh puisi serta mengeksplorasi dari hasil
membaca puisi. Siswa dibentuk
menjadi beberapa kelompok untuk memahami dan
mendiskusiakannya. Setiap perwakilan kelompok membacakan puisi di depan, dan
siswa yang lainnya memperhatikan atau menyimak pembacaan puisi. Dalam tahap ini guru
akan memberikan umpan balik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa.
d) Klarifikasi
Pada
tahap ini, guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok. Diskusi
kelas dilakukan untuk memperoleh pembenaran materi tentang hasil proses
pembelajaran membaca.
e) Penutup
Guru
dan siswa bersama-sama menyimpulkan hal-hal yang sulit dan yang belum
diketahui. Setelah itu guru merefleksi dan menanyakan kesulitan yang dihadapi
siswa dalam membacakan puisi.
2. Sistem Sosial
Dalam
penerapan model pembelajaran pendekatan alami ini, proses akan berlangsung
santai. Guru berperan sebagai fasilitator, organisator, pencipta suasana kelas
yang menarik, penanggung jawab dalam penerapan model ini. Sebagai fasilitator,
guru harus menyediakan meteri-materi yang dibutuhkan oleh para siswa.
Ketika konsep pembelajaran ini diterapakan,
guru harus lebih banyak bercerita tentang benda-benda yang ada dalam kelas atau
bercerita dengan menggunakan gambar-gambar yang bisa membantu siswa memahami
bahasa yang dipelajarinya. Untuk menjaga situasi di dalam kelas, siswa hanya
bisa mengungkapkan pikiran, pendapat, dan tanggapan mereka dalam bahasa
sasaran, apabila mereka sudah siap untuk melakukannya dalam artian berbicara.
Guru berbicara dengan lambat dan sejelas
mungkin untuk bertanya dan memberikan jawaban yang sederhana sehingga siswa
memperoleh input yang diperlukan.
Hubungan
antara fasilitator dan siswa dianggap
sebagai rekan dan siswa tidak boleh merasa takut untuk melakukan kesalahan. Sebagai seorang fasilitaor, guru tidak boleh memaksa siswa untuk berbicara
dalam menggunakan kata-kata bahasa sasaran secara aktif sebelum mereka
benar-benar menguasainya.
3. Prinsip
Reaksi
Dalam
penerapan model
pembelajaran pendekatan
alamiah ini, guru dan siswa sangat berperan.
1) Peranan guru
a. Guru diharapkan menjadi seorang fasilitator.
Dalam artian, guru harus menyediakan materi-materi yang dibutuhkan oleh para
siswa, dan siswapun bebas memilih materi apa yang ingin mereka gunakan.
b. Guru juga berperan sebagai organisator tetapi bukan sosok yang dominan.
c. Guru menyediakan waktu yang banyak untuk
memberikan conprehensible input kepada siswa dalam kelas agar
pemerolehan bahasa dapat berlangsung, dalam hal ini guru guru berfungsi sebagai
generator dalam memberikan input kepada siswa. Guru diharuskan bisa menyediakan
input bahasa dengan berbagi bantuan seperti isyarat-isyarat, sehingga siswa
bisa menafsirkan input yang diberikan.
d. Guru sebagai
pecipta suasana kelas yang menarik dan santai serta ramah.
e. Guru tidak memaksa siswa untuk berbicara di
dalam kelas sebelum mereka siap untuk berbicara, guru tidak mengoreksi
kesalahan oleh siswa, dan guru memberikan bahan pelajaran yang sesuai dengan
minat siswa.
f. Guru berperan sebagai penanggung jawab dalam
memilih, mengumpulkan dan merancang materi pelajaran yang digunakan di dalam
kelas yang beraneka ragam. Materi pelajaran tidak hanya dipilih berdasarkan
persepsi guru semata akan tetapi juga harus mempertimbangkan minat siswa.
2) Peranan Siswa
Dalam pelaksanaan metode alamiah ini, siswa
dianggap sebagai rekan dan tidak boleh merasa takut untuk melakukan kesalahan
dalam berusaha menggunakan bahasa sasaran. Siswa diharapkan memiliki motivasi yang
tinggi dalam penggunaan bahasa target. Mereka harus memahami apa yang mereka
lakukan serta memahami tujuan pelajaran. Disini siswa berperan sebagai
prosessor dari conprehensible input, akan tetapi peran itu bisa berubah
mengikuti tahap perkembangan kemampuan kebahasaan mereka. Perubahan peran siswa
ini terutama terjadi pada saat siswa ini teutama terjadi pada saat siswa
memutuskan kapan mereka harus bicara, apa yang harus mereka ucapkan dalam
percakapan.
Tahap-tahap peran siswa, yaitu:
a. Tahap pre-production. Pada tahapan ini,
siswa berpartisipasi dalam kegiatan kelas tanpa harus memberikan respon atau
berbicara selain bahasa asing yang dipelajarinya.
b. Tahap early-production. Pada tahapan
ini, siswa diberi kesempatan menjawab peranyaan-pertanyaan sederhan yang
diajukan oleh guru.
c. Tahap speech-emergent. Pada tahapan
ini, siswa sudah terlibat dalam kegiatan bermain peran dan permainan.
4. Sistem
Penunjang
Dalam
penerapan model pembelajaran ini, dibutuhkan penunjang berupa sarana
yang turut mendukung terlaksananya model pembelajaran. Secara garis besar
sarana yang dibutuhkan dalam penerapan model ini antara lain: benda-benda yang ada dalam kelas, warna dalam lingkungan, gambar-gambar
hidup yang konkret, serta berbagai media yang akan
menunjang penginderaan siswa.
C. Penerapan
Model
Dalam
penerapan model pembelajaran bahasa melalui pendekatan
alamiah, penekanan metode alamiah harus digunakan secara komunikatif seperti
model silabus. Penekanan pada komunikasi mau tidak mau harus memaksa metode ini
untuk menyajikan kosa kata dalam jumlah yang banyak dan kurang pada grammer.
Hal ini diperlukan karena dalam metode ini benar-benar dibedakan antara
komprehensi dan produksi. Sehingga menyimak dan membaca dianggap sebagai
masukan yang sangat berguna dalam pemerolehan bahasa kedua. Metode ini yakin
bahwa jika menyimak dan membaca dilakukan secara benar, maka berbicara dan
menulis akan timbul dengan sendirinya, tidak perlu diajarkan. Urutan penyajian
adalah reseptif kemudian prodiktif. Berikut ini adalah contoh penerapan model
pembelajaran The Natural Approach.Pengertian Blended Learning
Model
Blended Learning ini pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan
pembelajaran yang dilakukan secara tatap-muka dan secara virtual. Menurut
Semler (2005)“Blended learning combines the best aspects of online
learning, structured face-to-face activities, and real world practice. Online
learning systems, classroom training, and on-the-job experience have major
drawbacks by themselves. The blended learning approach uses the strengths of
each to counter the others’ weaknesses.”
Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.
Blended learning ialah pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran yang berbeda serta ditemukan pada komunikasi terbuka diantara seluruh bagian yang terlibat dengan pelatihan”. Sedangkan untuk keuntungan dari penggunaan blended learning sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial yaitu:
Blended learning adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran, memperkenalkan berbagai pilihan media dialog antara fasilitator dengan orang yang mendapat pengajaran. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial.
Blended learning ialah pembelajaran yang didukung oleh kombinasi efektif dari cara penyampaian, cara mengajar dan gaya pembelajaran yang berbeda serta ditemukan pada komunikasi terbuka diantara seluruh bagian yang terlibat dengan pelatihan”. Sedangkan untuk keuntungan dari penggunaan blended learning sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial yaitu:
- Adanya interaksi antara pengajar dan mahasiswa
- Pengajaran pun bisa secara on line ataupun tatap muka langsung
- Blended Learning = combining instructional modalities (or delivery media),
- Blended Learning = combining instructional methods
Pada akhirnya, model pembelajaran ini
bertujuan untuk mencapai keefektifan pembelajaran, pembelajaran online dan face to face terhadap ESP (English for Specific Purposes),
memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
(1) pembelajaran model blended dengan blog berbasis video merupakan sebuah pendekatan yang efektif bagi siswa dalam belajar bahasa Inggris;
(2) blogging membantu 82% siswa dalam memperbaiki keahlian public speaking-nya, seperti ucapan, artikulasi, ekspresi muka, sikap dan isyarat;
(3) siswa juga diajari cara menggunakan software multimedia komputer dan aplikasi blog melalui pembelajaran kooperatif;
(4) siswa dapat melihat dan memperbaiki kelemahannya dan belajar dari kemampuan oranglain dengan melihat video di blog secara cepat; dan
(5) dengan mengimplementasikan model pembelajaran blended terhadap pelajaran public speaking, siswa mendapatkan keuntungan berupa otonomi diri dan belajar kolaboratif, feedback teman sebaya dari video, feedback instruktur dan refleksi diri.
Pengimplementasian model pembelajaran blended
secara lebih luas selayaknya didukung dengan berbagai penelitian, sehingga
prosentasi masing-masing model pembelajaran dapat diketahui. Blended
learning memberikan kesempatan yang terbaik untuk belajar dari kelas
transisi ke elearning. Blended learning
melibatkan kelas (atau tatap muka) dan belajar online. Metode ini sangat
efektif untuk menambah efisiensi untuk kelas instruksi dan memungkinkan
peningkatan diskusi atau meninjau informasi di luar ruang kelas.
Pengertian Homeschooling Indonesia
Dalam bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah “sekolah rumah”. Ada juga orangtua yang secara pribadi lebih suka mengartikan homeschooling dengan istilah “sekolah mandiri”. Tapi nama bukanlah sebuah isu. Disebut apapun, yang terpenting adalah esensinya.
Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah.
Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.
Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.
Keberadaan homeschooling Indonesia telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (10) yang berbunyi:
“Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”
Dalam praktek homeschooling tidak harus memenuhi penyetaraan pendidikan. Pendidikan kesetaraan adalah hak dan bersifat opsional. Jika praktisi homeschooling menginginkannya, mereka dapat menempuhnya. Jika tidak, mereka tetap dapat memilih dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tetapi Penyetaraan ini digunakan untuk dapat dihargai dan setara dengan hasil pendidikan formal, tentu setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.
Penyetaraan dalam praktek homeschooling yaitu penyetaraan ujian, penilaian, penyelenggaraan, dan tujuan pendidikan. Pendidikan kesetaraan dalam ujian nasional meliputi program Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA.
Kelebihan homeschooling:
- Customized, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
- Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum.
- Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.
- Lebih siap untuk terjun di dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.
- Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, drug, konsumerisme, pornografi, mencontek, dsb).
- Kemampuan bergaul dengan orang tua dan yang berbeda umur (vertical socialization).
- Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua
- Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua
- Sosialisasi seumur (peer-group socialization) relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.
- Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan.
- Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.
Sistem pendidikan anak melalui sekolah memang umum dan sudah dipraktekkan selama bertahun-tahun lamanya. Saat ini, pendidikan melalui sekolah menjadi pilihan hampir seluruh masyarakat.
Tetapi sekolah bukanlah satu-satunya cara bagi anak untuk memperoleh pendidikannya. Sekolah hanyalah salah satu cara bagi anak untuk belajar dan memperoleh pendidikannya. Sebagai sebuah institusi/sistem belajar, sekolah tidaklah sempurna. Itulah sebabnya, selalu ada peluang pembaruan untuk memperbaiki sistem pendidikan; baik di level filosofi, insitusi, approach, dan sebagainya.
Sebagai sosok yang bertanggung jawab untuk mengantarkan anak-anak pada masa depannya, orang tua memiliki tanggung jawab sekaligus pilihan untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Homeschooling menjadi alternatif pendidikan yang rasional bagi orang tua; memiliki kelebihan dan kekurangan inheren di dalam sistemnya.
Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan bahwa kita telah memberikan yang maksimal untuk anak-anak kita, dengan segala batasan (constraint) yang kita miliki.
Collaborative learning-work
Collaborative learning atau pembelajaran kolaboratif adalah situasi dimana terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu secara bersama-sama. Tidak seperti belajar sendirian, orang yang terlibat dalam collaborative learning memanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama lain (meminta informasi satu sama lain, mengevaluasi ide-ide satu sama lain, memantau pekerjaan satu sama lain, dll). Lebih khusus, collaborative learning didasarkan pada model di mana pengetahuan dapat dibuat dalam suatu populasi di mana anggotanya secara aktif berinteraksi dengan berbagi pengalaman dan mengambil peran asimetri (berbeda). Dengan kata lain, collaborative learning mengacu pada lingkungan dan metodologi kegiatan peserta didik melakukan tugas umum di mana setiap individu tergantung dan bertanggung jawab satu sama lain. Hl ini juga termasuk percakapan dengan tatap muka ] dan diskusi dengan komputer (forum online, chat rooms, dll.).[6] Metode untuk memeriksa proses collaborative learning meliputi analisis percakapan dan analisis wacana statistik
Collaborative learning ini sangat berakar dalam pandangan Vygotsky bahwa ada sebuah sifat sosial yang melekat pada pembelajaran, yang tercermin melalui teorinya tentang zona pengembangan proksimal. Sering kali, pembelajaran kolaboratif digunakan sebagai istilah umum untuk berbagai pendekatan dalam pendidikan itu. melibatkan upaya intelektual bersama oleh siswa atau siswa dan guru. Dengan demikian, pembelajaran kolaboratif umumnya berlangsung ketika kelompok siswa bekerja sama untuk mencari pengertian, makna, atau solusi untuk membuat sebuah artefak atau produk pembelajaran mereka. Lebih jauh, pembelajaran kolaboratif yang mengubah hubungan tradisional murid-guru di kelas ini, menghasilkan kontroversi mengenai apakah paradigma ini lebih bermanfaat daripada merugikan. Kegiatan belajar secara kolaboratif dapat mencakup penulisan kolaboratif, proyek kelompok, pemecahan masalah secara bersama, debat, studi tim, dan kegiatan lainnya. Pendekatan ini terkait erat dengan pembelajaran kooperatif.
Contoh Pembelajaran Kolaboratif
- Collaborative Networked Learning adalah suatu bentuk pembelajaran kolaboratif untuk para pembelajar dewasa mandiri. Menurut Findley (1987) " Collaborative Networked Learning (CNL) pembelajaran yang terjadi melalui dialog elektronik antara co-learner, leaner (peserta didik), dan para pakar yang masing-masing memegang kendali atas dirinya sendiri. Peserta didik memiliki sebuah tujuan bersama, tergantung pada satu sama lain dan bertanggung jawab kepada satu sama lain untuk keberhasilan mereka. CNL terjadi dalam kelompok interaktif di mana peserta secara aktif berkomunikasi dan bernegosiasi makna satu sama lain dalam kerangka kontekstual, dapat difasilitasi oleh seorang mentor, pelatih online atau pemimpin kelompok. " Pada 1980-an Charles almarhum Dr A. Findley memimpin proyek Collaborative Networked Learning di Digital Equipment Corporation di Pantai Timur Amerika Serikat. Pada proyek Findley, dilakukan analisis kecenderungan dan dikembangkan prototipe dari lingkungan belajar kolaboratif, yang menjadi dasar untuk mereka lebih lanjut penelitian dan pengembangan apa yang mereka sebut Collaborative Networked Learning (CNL),
- Computer-supported collaborative learning (CSCL) merupakan paradigma pendidikan yang relatif baru dalam pembelajaran kolaboratif yang menggunakan teknologi dalam lingkungan pembelajaran untuk membantu menengahi dan mendukung interaksi kelompok dalam konteks pembelajaran kolaboratif. Sistem CSCL menggunakan teknologi untuk mengontrol dan memonitor interaksi, untuk mengatur tugas, aturan, peran, dan untuk menengahi perolehan pengetahuan baru. Baru-baru ini, ada sebuah studi yang menunjukkan bahwa penggunaan robot di dalam kelas untuk meningkatkan pembelajaran kolaboratif menyebabkan peningkatan efektivitas belajar dari kegiatan dan peningkatan motivasi siswa. Para peneliti dan praktisi di beberapa bidang, termasuk ilmu kognitif, sosiologi, teknik komputer telah mulai menyelidiki CSCL. Dengan demikian, bahkan CSCL dapat menjadi bidang trans-disiplin yang baru.
- Learning Management Systems adalah konteks yang memberikan makna pembelajaran kolaboratif tertentu. Dalam konteks ini, pembelajaran kolaboratif mengacu pada kumpulan alat yang peserta didik dapat digunakan untuk membantu, atau dibantu oleh orang lain. Alat tersebut termasuk ruang kelas virtual (yaitu ruang kelas yang didistribusikan secara geografis dan dihubungkan oleh koneksi jaringan secara audio-visual), chatting, thread diskusi, application sharing (misalnya seorang rekan proyek spreadsheet pada layar rekan lain di seluruh link jaringan untuk tujuan kolaborasi), dan lain sebagainya.
Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu
proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks
pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki
pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel da-pat diterapkan
(ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks
lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi
dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil
pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
pembelajaran+ctl
Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang
sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran
berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual
(contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing,
applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu
mencapai kompetensi secara maksimal.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai
tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata
guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan
kontekstual.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen
utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism),
bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar
(learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya
(authentic assessment).
Langkah-langkah CTL
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja,
dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup
mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam
CTL adalah sebagai berikut:
1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna
dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan barunya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan
berbagai cara.
Karakteristik Pembelajaran CTL
1. Kerjasama.
2. Saling menunjang.
3. Menyenangkan, tidak membosankan.
4. Belajar dengan bergairah.
5. Pembelajaran terintegrasi.
6. Menggunakan berbagai sumber.
7. Siswa aktif.
8. Sharing dengan teman.
9. Siswa kritis guru kreatif.
10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa,
peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.
11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya
siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap
demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan
dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan
pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran,
lang-kah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana
pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara
umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program
pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang
akan dicapai (je-las dan operasional), sedangkan program untuk
pembelajaran kontekstual le-bih menekankan pada skenario
pembelajarannya.
Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson
(2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari
pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan
isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah
dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna
memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan
kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan
inilah inti dari CTL.
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works)
Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran
yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga
mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sisw
3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif,
mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan
kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa.
Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa
menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4. Bekerjasama (collaborating)
Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif
dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok,
membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling
berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan
berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir
kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis
dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan,
menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu
kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam
mengembangkan sesuatu.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual)
Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan
kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga
aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung
jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran
kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan
kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan
dan kemampuannya.
7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards)
Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara
optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai
keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan
kekuatannya.
8. Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment)
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi
dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan
tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar,
penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan
kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka
pelajari.
.... Baca Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/pengertian-pembelajaran-kontekstual-ctl.html
Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu
proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks
pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki
pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel da-pat diterapkan
(ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks
lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi
dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil
pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
pembelajaran+ctl
Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang
sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran
berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual
(contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing,
applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu
mencapai kompetensi secara maksimal.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai
tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata
guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan
kontekstual.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen
utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism),
bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar
(learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya
(authentic assessment).
Langkah-langkah CTL
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja,
dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup
mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam
CTL adalah sebagai berikut:
1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna
dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan barunya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan
berbagai cara.
Karakteristik Pembelajaran CTL
1. Kerjasama.
2. Saling menunjang.
3. Menyenangkan, tidak membosankan.
4. Belajar dengan bergairah.
5. Pembelajaran terintegrasi.
6. Menggunakan berbagai sumber.
7. Siswa aktif.
8. Sharing dengan teman.
9. Siswa kritis guru kreatif.
10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa,
peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.
11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya
siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap
demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan
dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan
pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran,
lang-kah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana
pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara
umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program
pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang
akan dicapai (je-las dan operasional), sedangkan program untuk
pembelajaran kontekstual le-bih menekankan pada skenario
pembelajarannya.
Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson
(2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari
pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan
isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah
dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna
memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan
kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan
inilah inti dari CTL.
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works)
Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran
yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga
mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sisw
3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif,
mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan
kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa.
Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa
menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4. Bekerjasama (collaborating)
Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif
dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok,
membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling
berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan
berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir
kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis
dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan,
menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu
kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam
mengembangkan sesuatu.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual)
Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan
kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga
aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung
jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran
kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan
kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan
dan kemampuannya.
7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards)
Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara
optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai
keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan
kekuatannya.
8. Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment)
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi
dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan
tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar,
penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan
kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka
pelajari.
Pustaka
Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMA. 2009. Pengembangan Pembelajaran
Yang Efektif. Bahan Bimbingan Teknis KTSP. Jakarta.
Ibrahim R, Syaodih S Nana. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka
Cipta.
Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar
Menga-jar. Bandung: Sinar Baru.
Untuk lebih jelasnya, silahkan baca juga, artikel yang berhubungan
dengan Artikel Pengertian Pembelajaran Kontekstual CTL / Contextual
Teaching and Learning, antara lain :
Pengertian Pembelajaran Kontekstual CTL / Contextual Teaching and
Learning
Sekilas tentang Metode Kontekstual CTL (Contextual Teaching and
Learning)
Konsep Cooperative Learning
Learning Management System (E-learning)
Peranan guru dalam meningkatkan efektifitas pembelajaran
Guru yang professional
Bila Artikel Pengertian Pembelajaran Kontekstual CTL / Contextual
Teaching and Learning dirasa bermanfaat untuk Anda, sudi kiranya Anda
berikan G plus one anda
kami juga sangat bahagia bila anda suka dengan tulisan Pengertian
Pembelajaran Kontekstual CTL / Contextual Teaching and Learning ini
th_animated119Dan kami sangat berterimakasih, kepada anda yang telah
meninggalkan komentarnya dibawah ini.
submit
Simpan dalam PDF
Mungkin Anda perlu membaca yang dibawah ini :
Menambahkan button bookmarking Publikasi Artikel
CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
Penerapan Ejaan yang disempurnakan pada karya tulis
PEMANFAATAN LABORATORIUM UNTUK PEMEBELAJARAN DAN PENELITIAN
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke
Facebook
Label: artikel, belajar ctl, Contextual, ctl, kontekstual, Learning,
metode ctl, pembelajaran ctl, pembelajaran kontekstual, pengertian ctl,
strategi ctl, Teaching
0 komentar:
cmds
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Artikel Favorit
image_thumb
Pengajuan NUPTK Baru 2013
Pengajuan NUPTK Baru Tahun 2013, Melalui Layanan Sistem Informasi
PADAMU NEGERI akan diterbitkan layanan khusus Pengajuan NUPTK Baru
secara ...
clip_image002%25255B3%25255D
Cek Data SK Tunjangan Profesi Guru Sertifikasi
DETAIL DATA SK TUNJANGAN TRANSFER (TUNJANGAN PROFESI GURU PNSD)
SIRBATUN Transfer (Sistem Informasi Realisasi Pembayaran Tunja...
image_thumb%25255B2%25255D
CEK SK TUNJANGAN PROFESI GURU SERTIFIKASI NON PNS, FUNGSIONAL,
KHUSUS DAN GURU BANTU
REKAPITULASI PEMBAYARAN TUNJANGAN PROFESI GURU SERTIFIKASI NON PNS,
FUNGSIONAL, KHUSUS, DAN GURU BANTU TAHUN ANGGARAN 2013 ...
pembelajaran+ctl
Pengertian Pembelajaran Kontekstual CTL / Contextual Teaching and
Learning
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL)
merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi
sis...
ISSN m-Edukasi
1318731316
Arsip Blog
► 2013 (137)
► 2012 (252)
▼ 2011 (97)
▼ Desember (27)
Template Media Pembelajaran Akhir Tahun 2011
Iklan "Mie Sedap" Melecehkan Profesi Guru
Telkom Speedy menyelenggarakan Lomba Blog 2012
Share Button Untuk Menaikkan Pagerank Blog
Blog Guru Indonesia
Pengertian Pembelajaran Kontekstual CTL / Contextu...
Konsep Pembelajaran PAIKEM ?
Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK...
Hadiah Besar di Aspire S3 SEO Contest
Mencari Strategi Tepat untuk Belajar dan Pembelaja...
Posting Blog MenggunaKan Windows Live Writer
Sekilas tentang Metode Kontekstual CTL (Contextual...
Bel untuk Ujian Semester & bel sekolah dengan Flas...
Proses Pembelajaran yang lebih Bermakna
Melindungi CD dari Pembajakan (CD Protection Softw...
Hasil Lomba MPI LPMP JAWA TENGAH TAHUN 2011
LOMBA PENGEMBANGAN MULTIMEDIA BAGI MAHASISWA DAN G...
Fenomena PPG Turunkan Kredibilitas Universitas
Dengan Dot com Ngeblog jadi bersemangat
Satu Template Beragam Warna
Pemilihan Guru Berprestasi Dalam Pembuatan Bahan A...
Video tutorial PowerPoint 2007
Template Media Pembelajaran Orange
BSM Edu Award (Bank Syariah Mandiri)
Cara Mudah Membuat website dengan WebMatrix
Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar
Lomba Proposal Pendidikan Tanoto Education Grant t...
► November (14)
► Oktober (56)
website%20murah
PendidikanBlog GuruWeb Sekolah,/a>
sahabat_edukasi_45
Share
[ code ]
submit
Catatan Aktifitas Anda
TV%20edukasi%20online
image%25255B2%25255DTutorial Wirecast untuk Mengolah Video
...
clip_image002%25255B3%25255DMenu Broadcast Wirecast
...
clip_image002%25255B3%25255DMenu Media pada Wirecast
...
clip_image002%25255B3%25255DWirecast Menu Edit
...
clip_image002%25255B3%25255DMengenal Menu Switch Wirecast
...
clip_image002%25255B3%25255DMenu File Wirecast
...
hostinger-125x125-powered-2 v_11264 6946796496_3b6b7fe83a_o
bgi
button button button button
Komentar Anda
.... Baca Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/pengertian-pembelajaran-kontekstual-ctl.html
Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan suatu
proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks
pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki
pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel da-pat diterapkan
(ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks
lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi
dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil
pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
pembelajaran+ctl
Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang
sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran
berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual
(contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing,
applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu
mencapai kompetensi secara maksimal.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai
tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
ber-sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
Sesu-atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata
guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan
kontekstual.
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan-nya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidu-pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen
utama pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism),
bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar
(learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya
(authentic assessment).
Langkah-langkah CTL
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja,
dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup
mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam
CTL adalah sebagai berikut:
1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna
dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan barunya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan
berbagai cara.
Karakteristik Pembelajaran CTL
1. Kerjasama.
2. Saling menunjang.
3. Menyenangkan, tidak membosankan.
4. Belajar dengan bergairah.
5. Pembelajaran terintegrasi.
6. Menggunakan berbagai sumber.
7. Siswa aktif.
8. Sharing dengan teman.
9. Siswa kritis guru kreatif.
10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa,
peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.
11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya
siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap
demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan
dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan
pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran,
lang-kah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana
pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara
umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Program
pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang
akan dicapai (je-las dan operasional), sedangkan program untuk
pembelajaran kontekstual le-bih menekankan pada skenario
pembelajarannya.
Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson
(2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari
pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan
isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah
dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna
memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan
kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan
inilah inti dari CTL.
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works)
Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran
yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga
mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sisw
3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif,
mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan
kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa.
Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa
menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4. Bekerjasama (collaborating)
Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif
dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok,
membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling
berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan
berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir
kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis
dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan,
menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu
kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam
mengembangkan sesuatu.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual)
Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan
kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga
aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung
jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran
kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan
kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan
dan kemampuannya.
7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards)
Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara
optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai
keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan
kekuatannya.
8. Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment)
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi
dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan
tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar,
penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan
kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka
pelajari..... Baca Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2011/12/pengertian-pembelajaran-kontekstual-ctl.html
Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)